Kamis, 9 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 9 Februari 2012 | 12:13 WIB
Seperti AS, DKI Akan Miliki Lembaga 911
Hertanto Soebijoto | hertanto | Senin, 16 November 2009 | 10:27 WIB
|
Share:

KOMPAS/PRIYOMBODO
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo

JAKARTA, KOMPAS.com — Kabar gembira bagi warga Jakarta. Pemprov DKI Jakarta akan memiliki lembaga 911, sebuah lembaga pertolongan pertama bagi pasien.

Nantinya, masyarakat yang membutuhkan pertolongan medis cukup menghubungi nomor 911 dan petugas pun akan langsung datang. Ini merupakan lembaga baru di Indonesia seperti 911 yang dimiliki Amerika Serikat atau 000 milik Australia.

Memang tak semudah membalikkan telapak tangan dalam membentuk lembaga yang memiliki tugas dan fungsi sangat berat ini. Apalagi, ini baru pertama kali akan ada di Indonesia.

Untuk mewujudkannya, Pemprov DKI Jakarta akan memulai dengan menggelar pelatihan dan sertifikasi bagi SDM yang akan terlibat di dalamnya. Pelatihan tersebut pertama kali akan dipercontohkan melalui unit kesehatan sekolah (UKS).

Gubernur Fauzi Bowo mengatakan, tenaga kesehatan khusus pertolongan pertama memang belum terpenuhi, tetapi itu akan dibentuk sesegera mungkin. Namun, sebelumnya harus ada sertifikasi bagi mereka melalui berbagai pelatihan. SDM-nya bisa diambil dari tenaga medis ataupun nonmedis, seperti tenaga UKS, puskesmas, ataupun Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana.

"Alangkah baiknya tenaga medis di sekolah mempunyai sertifikasi. Begitu juga di unit Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana serta puskesmas, dibutuhkan tenaga profesional dalam pertolongan pertama agar rujukannya jelas," ungkapnya, Minggu (15/11).

Saat ini bentuk pelatihannya akan dikonsep dengan matang agar jika beroperasi hasilnya maksimal. "Paling tidak satu-dua tahun mendatang sudah ada pelatihan tersebut. Namanya first responder. Jadi mereka adalah perespons pertama dalam suatu kejadian yang tak terduga," ungkapnya.

Untuk mewujudkan wacana tersebut, pihaknya akan bekerja sama dengan Medic One, sebuah institusi pemegang lisensi langsung dari Australia untuk tenaga medis pertolongan pertama.

Manajer Operasional Medic One, Savitri Wirahadikusumah, mengatakan, sebuah negara harus memiliki jaringan keselamatan darurat (emergency safety net) sehingga tidak ada kepanikan dalam usaha penyelamatan pertama. Tim penolong pertama ini tidak harus memiliki background medis, tetapi dapat dilatih menjadi first responder dan telah memiliki sertifikasi.

"Saya dan Pak Fauzi berharap apabila ada keadaan emergency di Jakarta, walau Jakarta belum memiliki nomor respons darurat, tapi paling tidak setiap orang mengerti first aid dan memiliki skill tersebut," tutur Vivi.

Saat ini, lanjutnya, sedang digodok konsep pelatihan yang tepat untuk Jakarta. Setidaknya, dia akan memulai pelatihan melalui tenaga kesehatan di sekolah. Dengan demikian, jika ada siswa yang sakit cukup parah, paling tidak guru atau siswa senior dapat memberikan pertolongan pertamanya sebelum dibawa ke rumah sakit.

Selama ini yang sering terjadi adalah, saat dibawa ke rumah sakit, kondisi pasien sudah dalam keadaan parah sehingga terkadang pihak rumah sakit tidak bisa melakukan treatment lebih jauh.

Sumber :
Berita Jakarta
TOP STORIES

TOPIK PILIHAN