JAKARTA, KOMPAS.com - Pengguna kendaraan pribadi di Jakarta sebaiknya tidak menggunakan jalur busway saat terjadi banjir. Meski demikian, dalam keadaan darurat, jalur bus Transjakarta itu bisa saja menjadi alternatif selain pengalihan arus lalu-lintas.
Kepala Dinas Perhubungan Jakarta M Tauchid, Kamis (19/11) pagi di Jakarta, mengatakan bahwa masuknya kendaraan pribadi ke jalur busway seperti saat terjadi banjir pada Jumat (13/11) lalu tidak bisa dihindari karena jalur ini biasanya lebih tinggi dari badan jalan lain. Dalam keadaan darurat, hal tersebut dapat dimaklumi. Namun, ia mengimbau agar sebaiknya jalur ini dihindari dan pihaknya akan mengusahakan pencarian jalur alternatif bagi kendaraan pribadi.
"Kalau itu (busway) ke-blok, mau bagaimana lagi. Tapi, sedapat mungkin kita hindari itu karena memang tujuan busway kan untuk memperlancar pergerakan manusianya ya, bukan untuk kendaraan pribadi," kata Taucid usai mengikuti apel siaga dalam rangka antisipasi banjir 2009 di Monumen Nasional, Jakarta, Kamis (19/11) pagi.
"Tapi kalau banjirnya lebih besar lagi ya tentunya kondisi itu ya darurat. Mungkin perlu ada pengalihan arus dan sebagainya Itupun kita coba identifikasi arus alternatifnya ke mana," tambahnya.
Tauchid menambahkan, saat ini Dishub DKI Jakarta juga sudah bekerja sama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) untuk mengantisipasi terjadinya pemadaman listrik bergilir di ibu kota. Jika sewaktu-waktu listrik padam, Dishub akan menyiapkan genset untuk menyalakan lampu-lampu lalu lintas di titik-titik rawan kemacetan.
"Jadi kalau ada informasi mereka (PLN) mau memadamkan di daerah mana, kita ada koordinasi mana titik-titik lalu-lintas yang mana kita perlu genset. Kemarin sudah terlaksana di Kuningan dan (Jalan) Tendean," papar Tauchid.
Saat ini Dishub sudah memiliki tiga genset. Jumlah ini belum termasuk 15 unit bantuan dari PLN.
