JAKARTA, KOMPAS.com - Dua hari belakangan ini kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI) tak pernah sepi dari aksi demonstrasi. Menariknya, massa yang berdemonstrasi itu kebanyakan menyatakan dukungannya kepada Polri dan Kejaksaan Agung.
Hal itu tentu kontras dengan beberapa pekan lalu ketika Ibu Kota diwarnai demonstrasi yang mendukung KPK dan dua Pimpinan KPK nonaktif Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah.
Seperti hari ini, Kamis (19/11). Sejak pagi hingga siang setidaknya ada dua aksi demonstrasi. Para demonstran menyampaikan aspirasi dan dukungannya kepada Polri dan Kejaksaan sebagai institusi penegak hukum.
Maraknya aksi demonstrasi tersebut mendapat sorotan tajam dari masyarakat dan media massa. Sungguh sesuatu yang lumrah. Namun, para demonstran pendukung Polri rupanya merasa jengah karena merasa aksi yang mereka lakukan seperti tidak diyakini eksistensinya.
Seperti yang diungkapkan massa pendukung Polri dari Laskar Jayakarta yang melakukan aksi pagi tadi. Dia mempertanyakan, mengapa media massa cenderung ingin mengusut keberadaan mereka. Padahal, dalam aksi mendukung KPK beberapa waktu lalu tidak demikian.
"Saudara-saudaraku, lihat kemarin, waktu banyak demo mendukung KPK, kok semua diam saja. Tapi ketika kita mendukung Polri, kenapa kita dicari-cari dan ditanya-tanya. Kita dibilang ikut melemahkan KPK. Padahal, justru oknum-oknum KPK yang menghancurkan KPK," ungkap salah satu orator dari atas mimbar.
Sontak para demonstran pun berteriak-teriak dengan penuh semangat. Mereka mengikuti instruksi koordinator aksi yang mengajaknya menyanyikan lagu yang syairnya berisi dukungan terhadap Polri.
Aksi salah satu orator lainnya pun tak kalah keras. Di depan ratusan massa yang berasal dari Perhimpunan Masyarakat Betawi dan Laskar Jayakarta ini dia mengatakan bahwa mereka betul-betul elemen masyarakat yang peduli terhadap tekanan besar yang dihadapi Polri. Bukan karena "pesanan" ataupun dibayar untuk melakukan aksi.
"Kami bukan bayaran. Polisi mana yang bayar kami. Apa saudara-saudara dibayar," tanya sang orator. "Enggak," jawab ratusan massa riuh rendah.
Mereka pun menyatakan ancamannya untuk mengerahkan massa yang lebih besar lagi jika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melaksanakan rekomendasi dari Tim Delapan. Mereka menilai, apa yang disampaikan oleh Tim Delapan itu tidak berimbang karena sejak awal sudah mendukung KPK.
"Tim Delapan itu bukan memberikan rekomendasi, tapi mengintimidasi. Mari kita dukung Polri dan Jaksa Agung melaksanakan tugasnya," teriak orator itu.


