
JAKARTA, KOMPAS.com — PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) meminta kepada pengusaha mal di Jakarta dan sekitarnya untuk menghemat listrik serta sedikit menghangatkan suhu pendingin ruangan (AC) di mal. Hal ini dilakukan seiring dengan upaya PLN untuk mengatasi krisis listrik dan mencegah adanya pemadaman listrik, seperti beberapa waktu terakhir ini.
"Kami mengimbau pengusaha mal agar men-setting AC-nya sedikit hangat," ujar Manajer Bidang Distribusi PLN Disjaya Tangerang Widodo Budinugroho, saat jumpa pers di MU Cafe, Jakarta, Jumat (20/11).
Untuk mengatasi krisis listrik ini, PLN juga bekerja sama dengan sejumlah pihak, termasuk pemerintah provinsi, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), serta kalangan akademisi untuk terus melakukan sosialisasi gerakan hemat energi listrik bagi pelanggan PLN.
Menurutnya, salah satu penyebab krisis listrik di Jakarta diakibatkan oleh beban listrik di Jakarta dan sekitarnya yang meningkat lebih dari 6 persen pada tahun 2009 dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2008, beban pemakaian listrik pada siang hari sekitar 4.670 megawatt (MW). Adapun untuk malam harinya mencapai 4.058 MW.
Pada bulan Juli 2009, beban listrik pada siang hari mulai melonjak mencapai 5.002 MW dan 5.028 pada bulan September. Kemudian untuk malam hari, beban listrik mencapai kisaran 4.475 MW pada bulan September 2009. "Berarti ada kenaikan yang sangat tajam. Lebih dari 6 persen hingga 9 persen naiknya," tuturnya. Padahal, imbuhnya, selama ini tidak ada penambahan pembangkit, transmisi, dan gardu induk karena terbatasnya investasi.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik di Jakarta, dipasok dari Pembangkit Muara Karang sebesar 900 MW dan Pembangkit Priok sebesar 840 MW. Di samping itu, pasokan listrik Jakarta juga dibantu oleh pembangkit yang terinterkoneksi di Sistem Jawa Bali yang masuk dalam proyek 10.000 MW.