
JAKARTA, KOMPAS.com — Jengah dengan janji Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang tak berujung dan berbagai aksi yang tak juga mendapat perhatian, Yayasan Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar atau Setia akhirnya memutuskan untuk berjalan sendiri.
"Kita sudah berhenti berharap kepada pemerintah dan negara. Kita sudah tidak bisa berharap. Yang kami tangkap, kalau punya masalah, ya diselesaikan sendiri," kata Ronald Simanjuntak, Sekretaris Yayasan Setia, kepada Kompas.com di Jakarta, Jumat (20/11).
Menurut dia, saat ini pihaknya tengah berpikir mencari tempat sendiri untuk pindah dari gedung bekas Kantor Wali Kota Jakarta Barat. Di gedung itulah, sekitar 1.000 mahasiswa Setia tinggal dan kuliah sejak kampus dan asrama mereka di Kampung Pulo, Kecamatan Makassar, Jakarta Timur, ditutup paksa oleh warga.
Atas permintaan Pemprov DKI Jakarta, mereka meninggalkan Kampung Pulo dan mengungsi sejak 16 bulan lalu. Kini, tempat itu akan dirobohkan oleh Yayasan Saweri Gading, sebagai pemilik sah lahan.
Sejauh ini, belum jelas ke mana mereka akan pindah. Apakah dengan menyewa atau membeli suatu gedung, hal itu juga tidak dijelaskan Ronald. Satu yang pasti, mereka harus segera pindah.
Sebenarnya, Ronald melanjutkan, pihaknya telah mengirim surat kepada Gubernur Fauzi Bowo agar diberi tempat untuk mengungsi. "Tapi surat itu tidak dijawab. Katanya melalui media, beliau menolak. Tapi kok suratnya tidak dijawab," ujarnya.
Pada 13 November 2009, Foke, panggilan akrab Gubernur, mengatakan kepada Kompas.com bahwa ia tidak setuju jika Setia pindah-pindah. Ia cenderung mengarahkan Setia untuk membangun kampus baru di daerah Cikarang, Jawa Barat.
"Ke Cikarang, oke. Tapi untuk membangun paling tidak butuh dua tahun. Untuk itu kita minta ke kampus lama selama dua tahun. Setelah itu kami akan pindah ke kampus baru," harap Ronald.
Akan tetapi, permintaan ini pun tidak dikabulkan dengan alasan keamanan. Pemprov DKI pun tidak memberikan solusi tempat pindah karena gedung yang mereka tempati sekarang milik orang lain. Itulah alasan mereka akhirnya berhenti berharap kepada pemerintah dan mulai mencari jalan sendiri.
"Tidak ada solusi apa pun dari pemerintah. Yang lagi kita pikirkan adalah mencari tempat baru sendiri tanpa bantuan pemerintah karena menurut kami, pemerintah tidak ada," Ronald menandaskan.
Menurut pemantauan Kompas.com, pembongkaran Kantor Wali Kota Jakarta Barat terus berlanjut. Alat berat telah meratakan blok 1 dan 2 dengan tanah. Praktis, gedung yang masih berdiri adalah blok 3-6 tempat mahasiswa Setia masih tinggal.
"Kami sudah surati Yayasan (Saweri Gading) minta waktu sebulan (untuk tinggal). Tapi belum ada jawaban. Sampai sekarang belum dibongkar-bongkar," pungkas Ronald.