
JAKARTA, KOMPAS.com -
Sekretaris Perusahaan PT Pertamina (Persero) Toharso, di Jakarta, Sabtu (21/11), mengatakan, kuota bahan bakar minyak (BBM) untuk PLN tahun ini ditetapkan 7,9 juta kiloliter. Hingga saat ini, BBM yang sudah disalurkan 6,5 juta kiloliter. ”Kami memastikan pasokan BBM dari Pertamina akan sesuai dengan kebutuhan PLN. Apalagi, kuota BBM untuk tahun 2009 belum habis. Selain itu, keterlambatan pasokan BBM ke PLN tidak akan terjadi. Kami terus berkomunikasi sehingga setiap kali ada kebutuhan bisa langsung terpenuhi,” ucap Toharso. Ia memperkirakan, sisa kuota BBM untuk PLN masih memadai hingga akhir tahun. Kalaupun ada tambahan kuota, Pertamina akan menyiapkan BBM sesuai dengan kebutuhan PLN. Mengenai pembelian BBM dengan jeriken di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum, Toharso mengatakan, Pertamina pada dasarnya melarang pembelian BBM dengan jeriken. ”Pembelian BBM dengan jeriken muncul karena pemadaman listrik sering dialami masyarakat. Sebagian warga butuh membeli BBM untuk mengoperasikan genset,” katanya. Toharso menjelaskan, pelarangan membeli BBM dengan jeriken dimaksudkan untuk mencegah BBM dijual kembali atau dipakai untuk kebutuhan industri. Pertamina sulit melarang pembelian BBM sebanyak 1-5 liter menggunakan jeriken. Sementara pembelian BBM untuk genset industri seperti hotel, Toharso mempersilakan pengusaha membeli BBM langsung ke Pertamina. ”BBM dalam jumlah besar bisa dibeli dengan harga industri,” ujarnya. Secara terpisah, Kepala Daerah Operasi I PT Kereta Api Mulianta Sinulingga mengatakan, defisit listrik saat ini telah mengganggu operasional kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek sejak dua bulan lalu. ”Biasanya, ada sekitar 400 perjalanan KRL Jabodetabek setiap hari. Sekarang hanya 250-300 KRL yang bisa jalan karena defisit listrik,” katanya. Pengurangan perjalanan ini dilakukan karena listrik yang tersedia sangat terbatas. Jika KRL dioperasikan seperti kondisi normal, Mulianta khawatir akan ada KRL yang mogok di perjalanan karena kurang listrik.