KOMPAS
Minggu, 21 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Pertamina Jamin BBM untuk PLN Tidak Telat
Minggu, 22 November 2009 | 05:23 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Dalam mengatasi krisis listrik, PT Pertamina (Persero) menjamin pasokan bahan bakar minyak untuk pembangkit listrik milik PLN tidak telat. Pasokan juga dipastikan lancar karena kuota bahan bakar minyak untuk PLN tahun 2009 belum terlampaui.

Sekretaris Perusahaan PT Pertamina (Persero) Toharso, di Jakarta, Sabtu (21/11), mengatakan, kuota bahan bakar minyak (BBM) untuk PLN tahun ini ditetapkan 7,9 juta kiloliter. Hingga saat ini, BBM yang sudah disalurkan 6,5 juta kiloliter.

”Kami memastikan pasokan BBM dari Pertamina akan sesuai dengan kebutuhan PLN. Apalagi, kuota BBM untuk tahun 2009 belum habis. Selain itu, keterlambatan pasokan BBM ke PLN tidak akan terjadi. Kami terus berkomunikasi sehingga setiap kali ada kebutuhan bisa langsung terpenuhi,” ucap Toharso.

Ia memperkirakan, sisa kuota BBM untuk PLN masih memadai hingga akhir tahun. Kalaupun ada tambahan kuota, Pertamina akan menyiapkan BBM sesuai dengan kebutuhan PLN.

Mengenai pembelian BBM dengan jeriken di stasiun pengisian bahan bakar untuk umum, Toharso mengatakan, Pertamina pada dasarnya melarang pembelian BBM dengan jeriken.

”Pembelian BBM dengan jeriken muncul karena pemadaman listrik sering dialami masyarakat. Sebagian warga butuh membeli BBM untuk mengoperasikan genset,” katanya.

Toharso menjelaskan, pelarangan membeli BBM dengan jeriken dimaksudkan untuk mencegah BBM dijual kembali atau dipakai untuk kebutuhan industri. Pertamina sulit melarang pembelian BBM sebanyak 1-5 liter menggunakan jeriken.

Sementara pembelian BBM untuk genset industri seperti hotel, Toharso mempersilakan pengusaha membeli BBM langsung ke Pertamina. ”BBM dalam jumlah besar bisa dibeli dengan harga industri,” ujarnya.

Ganggu KRL

Secara terpisah, Kepala Daerah Operasi I PT Kereta Api Mulianta Sinulingga mengatakan, defisit listrik saat ini telah mengganggu operasional kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek sejak dua bulan lalu.

”Biasanya, ada sekitar 400 perjalanan KRL Jabodetabek setiap hari. Sekarang hanya 250-300 KRL yang bisa jalan karena defisit listrik,” katanya.

Pengurangan perjalanan ini dilakukan karena listrik yang tersedia sangat terbatas. Jika KRL dioperasikan seperti kondisi normal, Mulianta khawatir akan ada KRL yang mogok di perjalanan karena kurang listrik. (ART)

Editor: jimbon   |   Sumber : Kompas Cetak Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.