
JAKARTA, KOMPAS.com — Fikri (7) asyik meraba-raba punggung buaya. Matanya menatap tajam tiap bagian tubuh binatang amfibi tersebut. Setelah mendengar aba-aba, langsung mulutnya melahap buaya. Tiga puluh detik kemudian buaya sudah berada di dalam perutnya.
"Enak, Mas," katanya kepada Kompas.com seusai lomba makan roti buaya di Istora Senayan, Minggu (22/11) pagi. Tentu buaya yang dipegang Fikri tadi bukan benar-benar buaya, tetapi ya roti buaya itu.
Sarah (8), peserta lain, tampak tidak peduli dengan suasana lomba. Dengan santai ia menikmati "buaya" sambil minum dari air kemasan. Bahkan, seusai lomba pun ia masih menyisakan setengah roti. Saat ditanya sebenarnya buaya itu melambangkan apa, ia hanya menggelengkann kepala sambil senyum-senyum.
Menurut Mirza Ahmad, anggota Kolisi Masyarakat Sipil Antikorupsi (Kompak) sebagai penyelenggara lomba, aksi makan roti buaya bagi anak-anak ini untuk menyosialisasikan antikorupsi dengan cara menyenangkan. Suasana minggu di Istora memang santai, banyak keluarga Jakarta datang ke sini untuk santai dan berolahraga ringan.
"Kami ingin dibuat fun. Kesannya konflik cicak dan buaya sangat serius. Kami ingin memasyarakatkan dengan cara lebih fun," katanya.
Anak senang, orangtua sadar
Ia pun sadar anak-anak TK dan SD yang mengikuti lomba ini tidak mengerti isu cicak dan buaya, yakni konflik KPK dan Polri. Konflik ini semakin panas dan masyarakat menunggu sikap Presiden setelah Tim Delapan menyerahkan rekomendasinya seusai memeriksa kasus Bibi-Chandra.
Acara makan roti buaya hanya kesenangan buat anak-anak, sementara sosialisasi kampanye antikorupsi bagi orangtuanya. "Anaknya makan roti, orangtuanya tersosialisasikan," ujar Mirza.
Kompak menyerukan supaya pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menuntaskan mafia hukum, mendukung rekomendasi Tim Delapan, dan membongkar tuntas Bank Century. Selain melalui makan roti buaya, sosialisasi ini juga dilakukan dengan lomba mewarnai cicak-buaya bagi anak-anak serta menulis pesan buat Presiden di kain dan di pohon harapan.