JAKARTA, KOMPAS.com — Harga obat-obatan di sejumlah toko obat diPasar Pramuka lebih murah dibandingkan di tempat lain. Alhasil, banyak warga yang memilih membeli obat di Pasar Pramuka.
Adanya perbedaan harga obat di Pasar Pramuka dengan yang dijual di apotek dan rumah sakit diungkapkan Syarifah (50). Warga Cipinang Muara, Jatinegara, Jakarta Timur, itu selama ini rutin membeli obat untuk suaminya yang menderita penyakit hipertensi (darah tinggi).
"Selisihnya lumayan banyak. Kalau obat yang dikonsumsi rutin, sangat terasa. Apalagi, orang seperti kami cuma pensiunan yang enggak dapat biaya penggantian obat. Harga jauh lebih murah daripada beli di apotek atau waktu berobat ke rumah sakit," katanya akhir pekan lalu.
Saat diminta menyebutkan contoh obat yang dibeli di Pramuka lebih murah, ia menyebutkan salah satu contoh, yaitu satu strip (isi 10) obat Tensipas dosis 5 miligram yang masuk katagori obat paten. Di Pasar Pramuka, obat itu ia beli dengan harga Rp 50.000. Namun, harga obat dan jumlah yang sama di apotek di luar Pasar Pramuka bisa Rp 60.000-Rp 65.000. "Lumayan kan selisihnya. Itu baru satu macam obat, belum obat yang lainnya. Jadi, kalau ditotal, selisihnya lumayan besar," katanya.
Adanya perbedaan harga itu juga diungkapkan Nana (41), warga Sawangan, Depok. Selama ini ia belanja obat-obatan untuk warungnya di Pasar Pramuka karena selisih harga sangat jauh. Apalagi, obat yang dibelinya untuk dijual lagi. "Makanya saya bela-bela-in. Biarpun jauh dari Sawangan ke Pasar Pramuka, karena selisih harganya banyak, tetap saya kejar. Para pedagang di Pasar Pramuka kebanyakan jual di bawah harga eceran tertinggi (HET)," katanya.
Dia memberi contoh, obat flu influenza, batuk, dan pilek merek Hufagrip, ia beli di Pasar Pramuka hanya Rp 6.000 per botol. Padahal, HET yang tertera di kardus pembungkus obat tersebut Rp 14.000 per botol. "Lumayan selisihnya kan? Kalau saya jual di warung cuma Rp 9.000. Jadi, saya masih berani jual di bawah HET juga," katanya.
la kembali mencontohkan obat turun panas anak-anak Panadol sirup. Di Pasar Pramuka hanya dijual Rp 18.000 per botol. Adapun HET yang tertera Rp 24.000 per botol. "Saya jualnya cuma Rp 23.000. Itu pun saya sudah dapat untung Rp 5.000," katanya.
Apabila ada perubahan cuaca seperti saat ini, obat-obat semacam itu banyak yang beli. Adanya perbedaan harga obat itu, kata Rahmat, salah satu pedagang di Pasar Pramuka, karena pihaknya mendapat kiriman langsung dari agen besar farmasi. Agen ini langsung mengambil obat dari produsen.
Dengan demikian, harga belinya jauh lebih murah karena pihak yang menikmati keuntungan tidak terlalu banyak. "Makanya di sini lebih murah. Kalau tadi bilang apotek di luar sini jualnya lebih mahal, ya banyak juga apotek belanja obat di sini," katanya.
Disinggung adanya pasokan dari yang sumber lain, hal itu tak dipungkiri Rahmat. Ia mengungkapkan, tidak sedikit masyakarat yang menjual obat ke toko obat di Pasar Pramuka. "Kita sih enggak mau tahu dari mana asal dia dapat obat itu. Yang penting kami lihat asli barangnya dan harganya ada selisih, kami tampung saja untuk tambah-tambah stok," katanya.