JAKARTA, KOMPAS.com — Pengusaha media Sigid Haryo Wibisono bersaksi bahwa uang Rp 500 juta diserahkan ke mantan Kapolres Williardi Wizard bersifat pinjaman. Digunakan untuk biaya operasional dan sekolah anaknya.
"Itu biaya operasional untuk identifikasi teror Pak Antasari dan anaknya mau berangkat ke Australia," kata Sigid dalam sidang Eduardus Ndopo Mbete di PN Tangerang, Senin (23/11).
Keduanya terlibat dalam kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjar Nasrudin Zulkarnaen. Seperti telah diberitakan, mantan Ketua KPK Antasari Azhar mengeluh kepada Sigid bahwa ia diteror. Pelaku teror diduga Nasrudin dan Rani Juliani, istrinya.
Menindaklanjuti keluhan itu, Sigid membantu Antasari dengan minta tolong Wiliardi untuk menyelidiki dugaan teror itu. Sigid sendiri baru kenal Wiliardi pada Januari 2009 yang diperkenalkan oleh direksinya yang bernama M Agus.
Kesaksian Sigid ini bertentangan dengan apa yang dikatakan Wiliardi dalam sidang sebelumnya. Pada waktu itu, sangat jelas Wiliardi menolak pernah meminjam uang kepada Sigid. Bahkan, ia mengklaim memiliki lebih banyak uang dibandingkan Sigid.
Sebagai jaminan, tutur Sigid, Wiliardi memberikan cek senilai Rp 500 juta kepadanya. Namun, setelah dicek, ternyata cek tersebut kosong. Sekalipun demikian, uang pinjaman tetap mengalir kepada Wiliardi.
Dana tersebutlah yang dipakai untuk mencari orang yang diberi tugas mengintai Nasrudin yang diduga berakhir pada pembunuhan Nasrudin pada 14 Maret 2009 seusai main golf di Padang Golf Medernland, Tangerang.
Setelah Sigid memberi keterangan, Edo diberi kesempatan bersaksi. Namun, karena keduanya tidak saling kenal, ia tidak bicara banyak. "Tidak tahu-menahu," kata Edo menjawab pertanyaan apakah ada keberatan. Pertanyaan disampaikan oleh Arthur Hangewa, ketua majelis hakim.


