SIDOARJO, KOMPAS.com - Habis sudah kesabaran warga Desa Banjarkemantren mensikapi ulah nakal PT Multi Prawn Indonesia (MPI) Desa Karangbong Gedangan yang membuang limbahnya ke sungai di desa mereka. Setelah protes warga beberapa kali tidak direspons manajemen PT MPI, Senin (23/11) malam, warga beramai-ramai menutup saluran pembuangan pabrik dengan cor semen dan batu.
“Itu tandanya kami telah segel saluran itu, “ ujar Mujiarto, Ketua RT 5 RW 3 Desa Banjar Kemantren, Selasa (24/11).
Seperti diketahui, limbah pabrik tersebut menimbulkan bau tak sedap dan mencemari sumur warga. Sehingga, jika digunakan mandi membuat gatal-gatal di kulit. Kondisi seperti ini sudah berlangsung kira-kira lima tahun dan warga juga sudah berulang kali minta PT MPI tidak membuang limbahnya ke sungai desa mereka.
“Terakhir demo, Senin (2/11), pabrik berjanji akan membenahi salurannya. Jika air limbah tetap dibuang ke sungai maka ada kesepakatan untuk menutup saluran itu. Makanya malam itu saluran dicor warga,” imbuh Siti Fatimah, warga Desa Banjar Kemantren RT 5 RW 3.
Konflik warga dan pabrik berimbas pada ratusan buruh pabrik tersebut yang terpaksa menganggur karena aktifitas pabrik berhenti. Para buruh yang didominasi perempuan ini hanya duduk-duduk di halaman pabrik sambil menunggu penjelasan manajemen. “Kami ingin bisa kerja lagi, “ kata seorang buruh.
Warga tetap minta bisa bertemu langsung pimpinan pabrik untuk membicarakan protes limbah itu. Sebab tiga staf PT MPI yang menemui warga, Selasa (24/11), siang hanya bisa menampung keluhan warga. “Makanya sebelum kami bertemu pimpinannya, kami akan tetap membuntu saluran itu,” tegas Mujiarto.
Manajemen PT MPI belum berhasil dikonfirmasi. Satpam setempat menyatakan pimpinan tidak berada di kantor karena produksi dihentikan akibat saluran pembuangan dibuntu warga. “Hari ini pabrik libur. Sebab sejak saluran dibuntu warga, air sisa limbah meluber kemana-mana, termasuk membanjiri halaman pabrik ini, “ ujar satpam tersebut, Selasa (24/11). st3


