Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 09:13 WIB
Saya "Udah" Enggak Tahan Tinggal di Kolong Begini...
Leo Sunu | jimbon | Jumat, 27 November 2009 | 13:12 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com — Suasana Idul Adha tak pernah terasa meriah bagi Suharyah (48). Bahkan, Idul Adha tahun ini pun suasananya terasa lebih memprihatinkan bagi wanita paruh baya, warga Kampung Baru, Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara, ini.

Pada September lalu sekitar sepekan setelah Hari Raya Idul Fitri, rumahnya ludes dilalap api saat kebakaran hebat melanda dua RW di Kelurahan Penjaringan. Tak satu pun perabotan ataupun barang berharga yang mampu diselamatkannya kala peristiwa itu. Satu-satunya barang yang bisa dibawanya hanyalah baju yang melekat di badannya.

Beruntung tak satu pun anggota keluarganya yang menjadi korban. Suhardi (58), suaminya, dan kelima anaknya sedang tak berada di rumah saat itu. Tak lagi memiliki tempat berteduh, mereka pun terpaksa tinggal di kolong Tol Rawa Bebek akses menuju Bandara Soekarno-Hatta bersama ratusan warga korban lainnya.

Hampir tiga bulan sejak kebakaran tersebut, Suharyah bersama keluarganya hingga kini masih bertahan di kolong tol. Tak punya biaya membangun rumah menjadi persoalan mendasar yang membuatnya bertahan di penampungan yang sudah tidak layak itu.

"Kalau inget sekarang lagi Lebaran Haji saya malah jadi inget kebakaran kemaren pas berapa hari abis Lebaran juga," ujar Suharyah kepada Kompas.com, Jumat (27/11).

Siang ini terasa begitu terik di lokasi penampungan di kolong tol. Suharyah masih memasak di bawah sebuah meja biliar bekas yang jika malam hari menjadi tempatnya merebahkan diri.

Bukannya memasak daging sebagaimana lazimnya perayaan Idul Adha, justru sayur asem yang dimasaknya untuk anak-anaknya. "Saya enggak dapet daging. Udah enggak ada lagi yang motong kurban kayaknya di sini sekarang," ujarnya.

Mushala Nurul Huda yang letaknya tak jauh dari "rumah" Suharyah memang sepi dari aktivitas hari raya. Tahun ini tak ada pemotongan hewan kurban di mushala itu.

"Saya juga tadi pagi enggak sempat shalat. Saya lagi enggak enak badan," ujarnya. Suharyah juga mengaku tak medapatkan bantuan zakat dari pemerintah dan para dermawan meski kesulitan ekonomi betul-betul mengimpitnya.

Idul Adha kali ini berlangsung begitu saja tanpa terasa oleh Suharyah. Suhardi, suaminya, pun tetap sibuk mencari dan mengumpulkan barang bekas untuk dijualnya sebagai penghidupan sehari-hari.

"Saya udah enggak bisa ngapa-ngapain lagi. Ngebayangin bisa naik haji aja saya enggak berani," tuturnya lirih.

Masih bisa bersyukur

Meski demikian, dengan kondisi memprihatinkan seperti itu, Suharyah mengaku masih bersyukur bisa bertahan hidup sejauh ini. Penyakit gula akut memang menderanya sejak lama.

Bahkan, tahun lalu Suharyah sempat dioperasi di RS Atma Jaya Pluit akibat penyakitnya. Jika ditotal, biaya pengobatan dan operasi yang harus ditanggungnya mencapai Rp 16 juta.

Beruntung ia mendapatkan bantuan pemerintah melalui surat keterangan tidak mampu. "Ya alhamdulillah saya bisa operasi gratis," ungkapnya.

Hingga kini, setiap dua pekan sekali, Suharyah mesti bolak-balik ke rumah sakit untuk mengontrol penyakitnya itu. "Tapi obatnya jarang-jarang saya tebus. Soalnya sekarang yang gratis cuma periksanya aja. Obatnya tetap bayar," tuturnya.

Di hari Idul Adha ini wanita asli Betawi tersebut mengungkapkan harapannya agar bisa segera meninggalkan penampungan dan hidup layak di rumah tetap. Ia berharap pemerintah bisa mengucurkan bantuan agar ia bisa membangun kembali rumahnya yang kini rata dengan tanah.

"Saya enggak minta dipindahin. Saya cuma pengen bantuan supaya rumah saya bisa dibangun lagi. Saya udah enggak tahan tinggal di kolong begini," tandasnya dengan mata menerawang.