
JAKARTA, KOMPAS.com — Ramainya para peziarah yang menyambangi Taman Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jumat (27/11), memberikan tambahan rezeki kepada para penjual bunga makam. Para penjual yang sebagian besar adalah warga yang tinggal di kawasan Karet Tengsin di sekitar pemakaman membuka lapak-lapak sejak tadi pagi ketika memperkirakan banyak orang yang akan berziarah.
Mereka tetap bersyukur meski diakui volume peziarah pada momen Idul Adha tak sebanyak pada momen Idul Fitri lalu. "Ya, daripada enggak ada kerjaan di rumah. Mending kita duduk-duduk di sini sambil jualan. Dapet rupiah jadinya," tutur Mala (36) kepada Kompas.com sambil memasukkan bunga-bunga makam ke dalam plastik.
Mala yang berjualan bersama dua anaknya, Sarah dan Imam, mengatakan, sehari-hari dirinya mencari nafkah dari menitipkan makanan ringan di warung-warung makan serta berjualan pakaian dari rumah ke rumah. Namun, karena sebagian besar warung libur, dia memutuskan untuk berjualan bunga makam sampai hari minggu nanti.
Begitu pula dengan Hj Fathia (52), warga Karet Tengsin. Tadi pagi, Fathia mengaku ingin istirahat saja.
Namun, putrinya sangat bersemangat mengajaknya berjualan bunga makam. Dia pun lantas ikut bersama putrinya. Sayangnya, menjelang siang, putrinya harus pulang karena tak enak badan.
Mengisi waktu adalah alasan utamanya dalam momen Idul Adha hari ini.
Tak sebanyak Idul Fitri
Seperti dikatakan Mala sebelumnya, keuntungan yang dapat diraupnya dari berjualan bunga makam pada momen Idul Adha sebenarnya tak sebanyak pada momen Idul Fitri, ketika para peziarah melimpah ruah di pemakaman.
Bedanya mencapai 30 persen. Pada saat Idul Fitri, dengan modal Rp 300.000, dirinya dapat meraup keuntungan bersih sebesar Rp 300.000.
Saat Idul Adha, dengan modal Rp 200.000, keuntungan maksimal yang bisa diperoleh hanya sebesar Rp 70.000. "Tapi lumayanlah Mbak, nutup-nutup biaya makan dua tiga hari," lanjutnya.
Tak jauh berbeda dengan Mala, Fathia juga bertekad menghabiskan bunga makam jualannya yang belum habis. "Kalau biasa (Idul Fitri) habis empat kantong sehari, ini sampai siang dua kantong aja masih sisa banyak," tutur perempuan berbaju gamis putih ini.
Selain itu, lanjutnya, pada momen Lebaran atau Idul Fitri, para peziarah tak cerewet menawar harga bunga makam dan air yang dijualnya meski harganya sendiri dipatoknya lebih mahal pada musim Lebaran. Sementara pada momen Idul Adha kali ini, hampir semua penjualnya cerewet menawar sebelum sepakat dengan harga yang tetap dipertahankannya.
"Padahal, biasa saya jual Rp 10.000 dapet tiga kantong. Nah ini dijual Rp 10.000 lima kantong masih juga nawar," ujarnya disertai derai tawa.