KOMPAS
Jumat, 12 Maret 2010 Selamat Datang  |     |  
Duh... Pengusaha Ikan Tenggelam di BKT
Laporan wartawan KOMPAS C. Windoro AT.
Jumat, 27 November 2009 | 17:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Umar Ali (27) seorang pengusaha kecil ikan hias, tewas tenggelam di banjir kanal timur (BKT) ruas Pondok Kopi, Duren Sawit, Jakarta Timur, Jumat (27/11) pagi. Ia terpeleset dan tenggelam saat mencari kutu air untuk pakan ikan hias bersama adiknya, Muhammad Nur (25). Jenazahnya baru ditemukan hampir tiga jam kemudian.

Arnadi (61), ayah korban dan Nur yang ditemui di rumah duka di Bintara 12 RT 8 RW 9, Bekasi Barat menjelaskan, awalnya Umar pamit hendak mencari pakan ikan. Meski dilarang ayahnya, Umar berangkat juga dengan sepeda motor. Karena khawatir terjadi sesuatu, Nur menyusul.

”Kami mencari kutu air sekitar pukul 08.00. Sejam kemudian kami pulang. Waktu menyusur pematang, kakak terpeleset. Saya langsung melompat hendak membantu karena kakak tidak bisa berenang. Saya berusaha menyelamatkan kakak, tetapi sia-sia, kakak tenggelam dan hilang,” tutur Nur. Ia lalu bergegas pulang memberi tahu keluarga, sementara Suwarno (60), seorang warga yang dituakan di sana, menghubungi polisi, petugas pemadam kebakaran dan pengurus wilayah.

Tim penolong yang terdiri atas 10 anggota pemadam kebakaran sektor V, Duren Sawit, dan sejumlah anggota satuan polisi pamong praja datang dan mulai bekerja pukul 10.00. Mereka naik perahu karet dan menyelam dengan menggunakan dua tabung. Jenazah baru ditemukan pukul 11.45. ”Kami kesulitan menemukan jenazah karena air keruh dan endapan lumpur sangat tebal,” tutur Bambang Sudibyo. Ia adalah salah seorang anggota pemadam kebakaran yang menemukan jenazah.

”Jasad korban kami temukan di kedalaman sekitar lima meter. Korban terkubur dalam posisi telentang di endapan lumpur sedalam hampir semeter,” tutur Bambang yang baru beberapa menit menggotong ke luar jenazah dari kubangan.

Dari sana, jenazah dibawa ke rumah duka. ”Jenazah akan dimakamkan pukul 17.00, di pemakaman Kampung Pengasinan atau lebih populer disebut kawasan makam Umpi Manis di Bintara Delapan, Bekasi Barat,” papar Suwarno.

Melanjutkan usaha

Nur mengatakan, saat hendak pulang, ia dan mendiang kakaknya baru memperoleh kutu air setengah liter. ”Biasanya kami mendapat dua sampai tiga liter,” ucapnya. Nur mengaku, setiap hari ia rutin mencari pakan ikan hias di tempat kakaknya menjadi korban. ”Puluhan orang mulai bekerja mencari pakan ikan di sekitar situ mulai jam 05.00 pagi,” ungkap Nur.

Arnadi mengatakan, Nur adalah anak ketujuh, sedang Umar adalah anak kelima. Umar mulai membuka usaha pemeliharaan dan perdagangan ikan hias sejak tiga bulan lalu. Kala itu kepada Arnadi ia menjelaskan, membuka usaha ikan hias karena setelah tujuh tahun bekerja di pabrik ban, Unha, di Cikarang, kontrak kerjanya tidak diperpanjang lagi. ”Ternyata setelah membuka usaha ikan hias, kontrak kerja Umar diperpanjang. Kegiatan usaha sehari-hari lalu diserahkan Nur,” ujarnya.

Arnadi menambahkan, meski Umar meninggal, Nur masih akan melanjutkan usaha ikan hias ini. Usaha pemeliharaan ikan Umar berlokasi di belakang rumah Arnadi. Di tempat terbuka, tampak beberapa kolam yang berisi puluhan ikan hias, sedang di tempat tertutup, tampak belasan akuarium berisi ikan hias black ghost.

Sejak sepekan sebelum kejadian, Arnadi sekeluarga sudah mendapat firasat buruk. ”Hampir setiap hari, nasi yang kami makan terasa basi. Saya sudah was-was,” ujar Arnadi. Bukan itu saja, ”Kamis malam, Umar mengatakan, Jumat pagi akan membeli kambing untuk Idul Adha. Baru sekali itu ia menyampaikan niatnya. Ternyata Tuhan menghendaki anak saya sendiri,” tutur Arnadi.

Sejumlah tetangga mengatakan, Umar dikenal sebagai pemuda bujang yang periang dan cekatan. ”Sampai sekarang belum punya pacar. Sepanjang hidupnya dia lebih banyak memikirkan keluarga dan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Saat Lebaran, dia paling sibuk beli pakaian Lebaran, tetapi tak satupun pakaian Lebaran untuk dia,” kenang Arnadi.

Editor: made Loading...
Sent from Indosat BlackBerry powered by
    Font: A A A
  Kirim Komentar Anda
  • Loading data..
 
Kirim Komentar Anda
Silakan login untuk kirim komentar Anda.
Komentar
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA.