
JAKARTA, KOMPAS.com- Mochtar Gultom (68), pemilik rumah kos, ditemukan tewas di kamar rumahnya di Jalan Praja Dalam RT 2/RW 5, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Sabtu (28/11) sekitar pukul 02.30. Ia diduga dibunuh oleh mantan supirnya yang berinisial E.
Rina (19), salah seorang penghuni rumah kos kepada wartawan di lokasi menjelaskan, Sabtu pukul 02.30, ia mendengar teriakan suara pria mengerang. Rina dan dua perempuan penghuni kos lainnya ke luar dari kamar. ”Kami pikir ada pencuri sepeda motor. Kami lalu saling mengingatkan apakah ada sepeda motor teman yang hilang,” ucapnya.
Pukul 11.00, pembantu perempuan yang rutin mengingatkan korban untuk makan siang, curiga. Sebab, majikannya belum juga keluar dari kamar. Pembantu yang tidak mau disebut namanya itu lalu mengetuk kamar Mochtar dan memanggili korban, ”Opung (kakek), opung, bangun. Sudah siang”.
Karena pintu kamar tak juga dibuka, ia curiga dan pulang ke rumah memanggil suaminya untuk memeriksa kamar majikannya. Suami-istri ini tinggal tak jauh dari rumah Mochtar. Pada waktu hampir bersamaan, Herlanda (42) anak sulung korban yang sedang berada di suatu tempat, menelpon ayahnya. Karena tidak ada jawaban, Herlanda pun curiga dan mendatangi rumah korban.
Saat pintu kamar mantan Kepala Pelabuhan Bakauhuni Lampung PT Pelindo II tahun 1990-an itu dibuka pukul 12.00, Herlanda melihat ayahnya dalam posisi tertelungkup, mulut tersumpal, sementara kaki dan tangan diikat tali rafia. Di tengkuk korban ada luka yang diduga akibat pukulan keras benda tumpul.
”Saya menduga, teriakan yang kami dengar bertiga tengah malam tadi adalah teriakan opung yang dipukul seseorang,” ucap Rina. Menurut James Gultom (41), dua telepon genggam ayahnya hilang setelah ayahnya dibunuh. Meski demikian, keadaan kamar tetap rapi. ”Tidak ada bagian kamar yang diacak-acak yang menunjukkan seseorang mencari barang berharga,” ucap James. Dompet Mochtar yang sebelumnya diduga dicuri pelaku pun, akhirnya ditemukan.
Oleh karena itu, James, Herlanda, dan Tina (35) menantu Mochtar menduga, pembunuhan ini mungkin bermotif balas dendam karena sakit hati. Mengutip keterangan sejumlah saksi, ketiganya mengatakan, pukul 03.00 Sabtu kemarin, E menghilang dari kamar kosnya. E adalah mantan sopir Mochtar.
E mulai menjadi sopir pribadi korban pada bulan September sampai bulan Oktober. Suatu hari, E membawa mobil korban untuk keperluan pribadi tanpa sepengetahuan korban. ”Mobil Xenia warna hitam milik mertua saya, baru kembali keesokan harinya sekitar pukul 11.00. Ini membuat mertua saya marah. Beliau lalu mengatakan, 'Maaf, saya tidak akan memakai kamu lagi. Mulai hari ini kamu berhenti',” tutur Tina.
Ia menambahkan, meski sudah tidak menjadi sopir pribadi Mochtar sejak dua pekan terakhir, E tetap menghuni kamar kos rumah Mochtar. Sabtu sore kemarin, jenazah pemilik 23 kamar kos itu diotopsi di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan. Korban mewariskan meninggalkan lima orang anak dan tujuh cucu.