
JAKARTA, KOMPAS.com - Mahasiswa Sekolah Tinggi Theologia Injili Arastamar (Setia) tetap bertahan di bekas Kantor Walikota Jakarta Barat, sekalipun dua blok gedung di sekitar mereka sudah rata dengan tanah. Bahkan sejak 26 Oktober 2009 mereka hidup tanpa listrik dan air bersih.
"Sudah pasrah banget," kata Ahasyweros dengan lesu kepada Kompas.com di Jakarta, Minggu (29/11). Menurut mahasiswa Setia Fakultas Pendidikan Agama Kristen itu, pihaknya tidak punya pilihan lain.
Ia mendengar bahwa Yayasan Setia tengah mengusahakan tempat untuk mereka pindah. Yayasan Setia telah meminta waktu kepada Yayasan Saweri Gading untuk tinggal di gedung tersebut sampai 6 Desember 2009. "Namun sampai sekarang belum tahu di mana tempatnya," ujar Ahasyweros.
Bekas kantor pemerintah tersebut dirobohkan karena pengadilan memutuskan bahwa Yayasan Saweri Gading sebagai pemilik sah lahan. Maka mulai hari Senin 26 Oktober 2009, gedung tersebut dirobohkan sehingga aliran listrik dan air dimatikan.
Menurut pantauan Kompas.com, blok 1 dan 2 sudah rata dengan tanah, sedangkan blok 3-6 masih dihuni 1.000 mahasiswa Setia. Selain itu, sekat yang memisahkan ruangan di lantai satu juga sudah dibongkar. "Tapi kami tidak tinggal di situ," terang Ahasyweros.
Sikap pasrah juga ditunjukkan oleh Mardiana L Mariba. Mahasiswi Setia Fakultas PAK semester VII ini mengaku sangat kecewa dengan Pemerintah DKI Jakarta. Karena menurut perempuan asal Mamuju Sulawesi Barat itu, Pemda tidak memenuhi janjinya untuk merelokasi mereka. "Seolah-olah tidak mau tahu. Pemerintah yang tidak bertanggung jawab," tukas Mardiana.
Sekalipun kondisi sulit, baik Ahasyweros maupun Mardiana tetap semangat menjalani hidup. Dengan demikian, kegiatan perkulihan pun tetap masih berjalan. Sekalipun air menggenang di saat hujan dan dalam keadaan gelap, aktivitas sehari-hari terus berjalan. "Kami tetap punya pengharapan dalam Tuhan," ujar Mardiana.