Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 17:04 WIB
Bayi "Sembunyikan" HP
| jimbon | Minggu, 6 Desember 2009 | 06:36 WIB
|
Share:

KOMPAS/RENE L PATTIRADJAWANE

KOMPAS.com - Djoko begitu gembira ketika mendapat kabar bahwa keponakannya yang tinggal di Pejaten, Jakarta Selatan, melahirkan anak pertama di sebuah klinik di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Hari Pahlawan, 10 November. Djoko dan istri pun menengok si jabang bayi.

Bukan tentang kelahiran itu yang kemudian menjadi ”berita”. Namun, tentang Djoko yang ”kehilangan” telepon seluler (HP) saat berada di kamar bayi.

Begini ceritanya. Karena mengenakan baju tanpa saku, Djoko merasa kesulitan menyimpan HP, sementara jika disimpan di saku celana, ia takut jatuh. Djoko pun menyelipkan HP itu di kaus kaki. Hal ini tentu saja kurang masuk akal, tetapi inilah pilihan terakhir.

Pada saat Djoko hendak menelepon seorang teman di luar kota, ia ”kesulitan” memperoleh HP-nya. Ia lupa bahwa HP itu diselipkan di kaus kaki. ”Wah, jangan-jangan HP jatuh, kemudian ditemukan orang dan dibawa kabur,” pikir Djoko.

Ia kemudian meminta anaknya melakukan missed call. Suara panggilan pun terdengar. ”Ini jelas suara panggilan untuk HP saya. Saya sangat hafal. Suaranya seperti denting piano,” tutur Djoko. Namun, di manakah HP itu? Kotak tempat sampah di balik, bawah bangku di tengok, vas bunga diobrak-abrik, boks bayi diteliti, tetapi sejauh itu HP tidak ditemukan. Padahal, dentingan panggilan HP terus mengumandang dan didengar oleh siapa pun di kamar itu.

Djoko kemudian meminta izin kepada suster penjaga untuk masuk ke kamar bayi yang kebetulan kosong. Sudut-sudut kamar disisir, lemari pakaian dibuka, HP-pun tetap tidak ditemukan.

Satu jam dalam pencarian, Djoko mulai berpikir kalau HP-nya ternyata hilang. Di tengah kegalauan, Djoko tiba-tiba berniat mengencangkan tali sepatu. Saat itulah ia ”menemukan” HP-nya terselip di kaus kaki. ”Sudah ketemu..,” teriak Djoko. Namun, ia malu mengatakan jika HP itu tersimpan di kaus kaki.

Sebelum meninggalkan rumah sakit, Djoko perlu meminta maaf kepada seluruh suster dan petugas keamanan di rumah sakit tersebut. ”Kesemuanya ini adalah buah dari keteledoran saya. Saya tidak berniat sedikit pun menuduh Mbak-mbak, Ibu-ibu, dan Bapak-bapak..,” tutur Djoko terharu sambil buru-buru keluar ruangan sambil menahan malu.

Ketika ia meneliti HP-nya, tercantum missed call sebanyak 48 kali. ”Kecuali berbunyi, sebenarnya HP juga bergetar jika ada panggilan masuk. Tetapi, saya tak merasakan apa-apa,” tutur Djoko.

”Itu namanya ’digoda’ si Blair. Saat mencari, kamu harus meminta tolong si Blair untuk ikut mencari.” Demikian kata mertua Djoko per telepon dari Solo. Blair adalah nama sang bayi. (POM)

Sumber :
Kompas Cetak