Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 11:28 WIB
Terimbas Resesi Ekonomi, Pasar Garmen Semakin Lesu
| jimbon | Rabu, 9 Desember 2009 | 06:52 WIB
|
Share:

KOMPAS.com - Resesi ekonomi mengakibatkan daya beli masyarakat Indonesia semakin anjlok. Salah satu dampak nyata yang dapat dilihat adalah perdagangan garmen, baik grosir maupun eceran, kelas menengah ke bawah di Jakarta yang semakin lesu.

Pedagang Pasar Cipadu, Kota Tangerang, dan Pusat Grosir Cililitan (PGC), Jakarta Timur, mengeluhkan merosotnya omzet penjualan. Keadaan ini diperparah kuatnya serbuan tekstil dan pakaian jadi asal China.

Penurunan omzet, antara lain, dirasakan kakak-beradik Anto dan Andi, pemilik kios baju jadi untuk ABG (anak baru gede) di PGC lantai dasar. ”Tiap bulan sudah nombok. Pemasukan enggak bisa lagi menutup sewa kios, pemeliharaan, dan biaya operasional,” ujar Andi yang berdagang sejak 2006.

Produk yang ia jual di antaranya celana panjang, ransel, jaket, kaus, topi, juga sweter produk impor dari Korea dan lokal, misalnya dari Bandung dan Jakarta.

Dua tahun lalu, omzet usahanya di atas Rp 10 juta per bulan. ”Sekarang, jauh di bawah angka itu. Padahal, sewa kios dan lainnya perlu dana sekitar Rp 8 juta per bulan,” timpal Anto. Pembeli lebih memilih celana panjang produk impor seharga sekitar Rp 200.000 per lembar.

Mellvin, pemilik kios Mie Mie Fashion di lantai dasar PGC, menyebutkan, barang impor mulai berkurang karena mahal, sementara pembeli dagangan di atas harga Rp 150.000 tak sebanyak dulu. ”Omzet saya turun sampai separuhnya, tapi barang lokal tetap dicari pembeli walau kain dan mutu jahitannya kasar,” katanya.

Harga blus dan kaus lokal Rp 15.000, sedangkan yang impor di atas Rp 50.000.

Makmun, perajin sekaligus pedagang tekstil di Cipadu, mengatakan, kondisi perajin dan pedagang semakin terpuruk oleh kehadiran tekstil dari China. ”Perajin garmen saat ini menangis. Barang menumpuk di gudang karena kami harus terus berproduksi, sementara daya beli masyarakat menurun.”

Kondisi ini ditandai dengan menurunnya omzet penjualan. Jika sebelumnya omzet Makmun mencapai Rp 20 juta per hari, belakangan omzetnya turun menjadi Rp 15 juta per hari.

”Sekarang perajin tekstil setengah mati. Sudah banyak yang bangkrut. Yang masih ada dalam kondisi hidup segan, mati pun tidak mau,” kata Makmun.

Untuk bertahan, Makmun mengandalkan pesanan, terutama dari Papua dan Sulawesi.

Impor dari China

Perajin garmen lokal pantas berkeluh kesah. Data Asosiasi Pedagang Pasar Indonesia (APPSI) menguatkan cerita mereka. Menurut APPSI, sampai saat ini produk garmen China, baik kain maupun pakaian jadi, masih mendominasi penjualan di pasar tradisional Indonesia.

Di Jakarta, sedikitnya ada empat pasar utama penjualan produk tekstil China, yaitu Pasar Tanah Abang, Jatinegara, Mangga Dua, dan Cipulir.

Di Pasar Tanah Abang, produk tekstil China mendominasi sekitar 60 persen produk pakaian wanita, 50 persen pakaian anak, dan 20-30 persen busana muslim. Di Pasar Jatinegara, 65-70 persen produk sepatu dan sekitar 50 persen produk tas berasal dari China. Di Pasar Cipulir, yang banyak menjual pakaian bayi dan perlengkapannya, pakaian anak-anak, busana pria-wanita dewasa, juga tidak jauh berbeda.

”Saya yakin, tak mungkin kain dari China barang legal. Buktinya, satu celana jins buatan China harganya Rp 40.000-Rp 50.000. Buatan Bandung saja minimal Rp 50.000-Rp 60.000. Logikanya, semurah apa pun biaya produksi di sana, kalau ditambah bea masuk, pajak-pajak resmi, pasti harganya lebih mahal dari produk lokal yang paling murah,” kata Sentanu (42), pedagang pakaian pria di Pasar Cipulir.

Sejak 1999 hingga sekitar 2002, ia hanya menjual jins buatan Bandung. Namun, kemudian banyak bermunculan distributor pakaian dari China yang menjual produk jins ke kios-kios dengan harga 10-30 persen di bawah produk Bandung.

Ia tidak punya pilihan selain berpindah membeli produk impor. ”Kalau saya sendirian yang bertahan, tidak kuat karena pedagang lain sudah beralih. Kasihan sama pemasok saya yang lama,” katanya.

Indah (28), pembuat celana pendek di belakang Pasar Cipulir, mengambil kain buatan China dari distributor di Bandung. Celana pendek buatannya dijual Rp 5.000-Rp 10.000 per potong di pasar-pasar. Toh harga itu masih lebih mahal dibandingkan celana bermuda asal China yang dijual di bawah Rp 10.000 per potong jika membeli dalam partai besar. ”Tidak laku deh barang saya,” katanya.

Ketua APPSI DKI Jakarta Hasan Basri berulang kali meminta pemerintah bertindak untuk mengatasi soal ini, tetapi sampai sekarang belum ada tindakan nyata. Ah, nasib pedagang dan perajin garmen lokal makin terpuruk saja. (NEL/PIN/TRI)

Sumber :
Kompas Cetak