Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 22:27 WIB
Mereka Tidak Kapok Berjibaku dengan Si Jago Merah
Sandro Gatra | mbonk | Jumat, 11 Desember 2009 | 13:14 WIB
|
Share:

ANTARA/FANNY OCTAVIANUS
Sejumlah petugas pemadam kebakaran berjuang memadamkan api di sebuah toko tekstil di kompleks pertokoan Pasar Baru, Jakarta beberapa waktu lalu. Petugas pemadam kebakaran baru ada di Batavia pada awal abad 20. Sebelum itu, petugas pemadam disebut anak pompa, mereka sesungguhnya adalah pemuda pengangguran yang belum bayar pajak yang terikat dalam kelompok-kelompok di setiap kampung.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Para petugas pemadam kebakaran mengaku tidak akan kapok atau takut menjinakkan si jago merah meskipun Sulistyo Putranto, rekan mereka, tewas saat bertugas. Sulistyo tewas tertimpa bangunan runtuh saat api menjilat rumah-rumah di Jembatan Besi, Tambora, Jakarta Selatan, Kamis (10/12/2009).

Petugas pemadam kebakaran dari Kantor Dinas Bantuan Operasi Jakarta Pusat, Ahmad Sani (24), mengaku tidak akan kapok melayani masyarakat. Saat kebakaran di Tambora, ia ikut tertimpa bangunan bersama dua petugas lain, Sulistyo dan Jose Rico (24). Akibatnya, ia harus dirawat di RS Sumber Waras, Jakarta Barat.

"Enggak kapok. Sudah resiko kami jadi petugas pemadam. Kalau sudah pulih, saya akan kembali ke lapangan," kata dia ketika ditemui Kompas.com di kamar perawatan, Jumat. Ini merupakan musibah pertama yang dialaminya.

Sani, Sulistyo, dan Rico merupakan petugas satu angkatan yang betugas di Kantor Dinas Jakarta Pusat. Mereka mulai bekerja sejak 2004 sebagai pegawai tidak tetap, menunggu pengangkatan sebagai PNS oleh Pemprov DKI Jakarta.

Senada dengan Sani, Rico pun ketika memilih pekerjaan sebagai petugas pemadam kebakaran sadar akan risikonya. Hal itu juga diamini oleh petugas lain, Harjana. "Mau bagaimana lagi, itu sudah risiko kami," kata dia.

Namun, akibat tewasnya Sulistyo, mereka sepakat untuk lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas pada kemudian hari. "Kami kalau sudah di lapangan sudah enggak mikirin nyawa masing-masing. Nurani yang bawa kmai untuk masuk ke bangunan-bangunan meskipun kami tahu bangunan yang terbakar berjam-jam rentan rubuh. Begini lah cara kami melayani masyarakat," ceritanya bangga.

Kepala Regu Kantor Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Utara Puryantoro menceritakan, musibah yang menewaskan anggotanya pernah terjadi pada 2006 di wilayah yang sama, Tambora. Saat itu, dua anak buahnya tewas. "Terakhir di wilayah Jakarta Selatan pada 2009 satu anggota tewas," kata dia.

"Saya sebagai komandan dari anak-anak berharap ada perhatian dari pusat kepada semua pegawai tidak tetap. Kalau bisa mereka dapat asuransi kecelakaan," ucapnya.