Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 00:09 WIB
Korban Kebakaran Tambora Mulai Berbenah
Sandro Gatra | msh | Sabtu, 12 Desember 2009 | 11:48 WIB
|
Share:
SANDRO GATRA
Korban kebakaran di Jembatan Besi mulai berbenah.
Foto:

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Tiga hari pascakebakaran hebat, warga Kelurahan Jembatan Besi, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, mulai berbenah. Kaum pria mulai membenahi tempat tinggal masing-masing dan mereka berharap dapat kembali hidup normal.

Lurah Jembatan Besi Ampeliyani mengatakan, api membakar 191 rumah di tiga RW dengan total korban 265 keluarga dan 1.736 jiwa.

Dari pantauan Kompas.com, Sabtu (12/12/2009), warga korban kebakaran di tiga RW itu mulai menyisir sisa-sisa bangunan yang telah hancur untuk mencari barang-barang yang masih bisa digunakan. Mereka mengumpulkan batu bata, tiang-tiang besi, perabot rumah tangga yang tersisa.

Seperti kakak beradik M Nuryanto (38) dan M Saifudin (27) warga RT 3 RW 8. Mereka mulai menyisir sisa rumah dengan dua lantai di atas tanah 7 x 3 meter. "Lumayan, batu bata, tiang-tiang besi masih bisa dipakai," ucap Nuryanto.

Rumah permanen yang kini luluh lantak itu ditinggali tiga keluarga dengan 12 jiwa. Saat kebakaran, mereka tidak sempat menyelamatkan harta benda karena cepatnya api berkobar. "Cuma pakaian di badan. Untungnya surat nikah sama kartu keluarga kebawa," cerita dia.

Untuk saat ini, ucap Nuryanto, ia hanya dapat berusaha merapikan sisa-sisa puing bangunan, belum terpikir untuk kembali membangun rumah. "Sekarang ratain aja dulu. Kita sih penginnya bangun tenda, enggak kepikir bangun rumah. Beli tenda aja belum kepikir, duit dari mana," ucapnya.

"Kita penginnya ngumpul semua di tenda di atas tanah sendiri. Sekarang kan kita misah. Ada yang di pengungsian, ada yang tidur di jalanan. Kalau di pengungsian kurang nyaman, tidur rame-rame desak-desakan. Kalau siang panas banget, malam dingin banget," kata Saifudin.

Selain kakak beradik itu, para pemilik usaha juga ikut berbenah merapikan tempat usahanya, mulai dari rumah makan hingga toko kelontong. Mereka menjual apa saja yang tersisa kepada pengepul barang bekas.