Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 19:45 WIB
Jelang Tembus Laut BKT Minta Korban?
Nisa | hertanto | Selasa, 15 Desember 2009 | 09:03 WIB
|
Share:

R.A. KHAIRUN NISA
Suasana Banjir Kanal Timur Pondok Kopi, Senin (14/12/2009). Akhir tahun 2009 ini Gubernur Fauzi Bowo telah menjanjikan BKT tersebut akan tembus laut.

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini sedang mengebut pengerjaan proyek Banjir Kanal Timur untuk mengejar target tembus laut di akhir 2009 ini.

Walau tidak 100 persen meniadakan banjir di Ibu Kota, banjir kanal tersebut setidaknya diharapkan mampu mengurangi titik-titik banjir sehingga turut pula mengurangi kerugian warga Jakarta saat banjir.

Proyek BKT berjalan bukan tanpa kendala. Hari Minggu (13/12/2009), korban dari kalangan pekerja BKT kembali muncul. Dia adalah satu dari sekian korban yang jatuh.

Dalam kecelakaan tersebut, dia mengalami luka-luka di kaki kirinya akibat tertimpa beton selama kurang lebih 30 menit. Pekerja tersebut diketahui bernama Mukrom (34), warga Kampung Cideng, RT 01/07, Ciparang Rahmat, Garut, Jawa Barat.

Tak lama setelah berhasil keluar dari impitan beton, Mukrom dibawa oleh rekannya ke Rumah Sakit Islam Pondok Kopi, Jakarta Timur.

Berdasarkan data yang didapatkan di RS Islam Pondok Kopi, Mukrom masuk rumah sakit pada pukul 12.47 dan keluar pada pukul 16.37. Mukrom adalah korban terakhir, setelah sebelumnya seorang pekerja BKT tewas akibat tenggelam dan ada juga yang tertimpa traktor.

Ketika ditanyakan kepada pekerja BKT lainnya, apakah mereka trauma setelah melihat beberapa rekan mereka menjadi korban, mereka menjawab tidak. "Nggak kok, Mbak," kata Wahyudi, salah satu pekerja di BKT Kawasan Pondok Kopi, Selasa (15/12/2009).

"Kecelakaan sudah biasa," ujar Zauri, pekerja lainnya.

Mereka mengaku sebelumnya telah mendapat pendapat pengarahan mengenai keselamatan kerja. "Sudah dapat, pelan yang penting selamat," ujarnya.

Zauri dan Wahyudi mengaku telah bekerja untuk BKT selama kurang lebih setengah tahun. Selama itu pula mereka mendapat "uang lelah" sebesar Rp 50.000. Uang sebesar itu mereka akui cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Yang penting cukup buat istri dan anak-anak," kata Wahyudi, yang mengaku meninggalkan keluarganya di Banjarnegara demi bekerja untuk BKT.

"Sudah ada pengarahan sebelumnya, itu kelalaian," ujar Sinyo, salah satu mandor proyek BKT yang mengurusi Keselamatan dan Keamanan Kerja (K3). Pengerjaan gorong-gorong untuk drainase sedang dilakukan.

Khusus di Pondok Kopi, kata dia, pengerukan masih terus dilakukan. Dikatakannya, target seharusnya sudah jadi per 20 Desember. "Harus siap, malah targetnya per 20 Desember," kata Sinyo.

Dari 13 aliran sungai yang melintasi Jakarta, 5 sungai di antaranya direncanakan akan dialirkan langsung ke laut melalui Banjir Kanal Timur. Masyarakat kini masih menunggu janji gubernur, agar banjir yang diperkirakan datang awal tahun depan tersebut bisa diantisipasi.