Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 00:15 WIB
Ibu (Wapres) Juga Suka Ngasih Tips
yon | msh | Jumat, 18 Desember 2009 | 18:28 WIB
|
Share:

Kompas/Antonius Wisnu Nugroho
Pak Boediono dan Bu Herawati tersenyum malu saat tahu hendak di foto ketika sedang jalan menuju Istana Merdeka, 2008.

TERKAIT:

KOMPAS.com- Menjadi penjaga bola di lapangan tennis Bidakara banyak pengalaman menarik yang di dapat Rinaldi. Lajang berkulit sawo matang dan berambut ikal yang biasa dipanggil Aldi itu telah menggeluti profesi sebagai penjaga bola di lapangan tennis Bidakara selama lima tahun lebih. Banyak suka duka yang ia dapat selama menjadi tukang pungut bola di lapangan Bidakara.

"Ya seneng aja ya dari pada gak ngapa-ngapain mending jadi penjaga bola. Senengnya lagi kalau pas gajian, jadi bisa buat jalan-jalan dan beli pulsa he.....he...," ujar Aldi saat ditemui di lapangan tennis Bidakara. Jumat (18/12).

Aldi yang kelahiran Jakarta, 20 oktober 1991 itu tidak sendirian menjadi penjaga atau pemungut bola di lapangan tennis tersebut, Ia juga didampingi Buyung teman separofesinya.

"Kita pokoknya standby seharian di sini. Kalau pas ada yang main, biasnaya kan pagi dan sore. Kita gantian," kata Aldi yang pagi itu tampak bersia-siap untuk menjalankan tugasnya sebagai pemungut bola.

Bagi Aldi, tidak ada perbedaan yang mencolok pada ibu Wapres Boediono sewaktu menjadi nyonya Gubernur BI dan menjadi ibu nomor dua di Indonesia. "Ibu Boediono ya biasa-biasa aja ya. Dari dulu memang orangnya baik dan apa adanya. Jadi saya juga kletika menjaga bola ya santai, kalau bolanya keluar ya saya ambil. Kalau bolanya nyangkut di net ya saya ambil cepet-cepet. Jadi gitu aja. Ibu gak pernah marah-marah atau bentak-bentak beliau orangnya bersahaja," terang Aldi.

Bagi Aldi, Ibu Boediono bukan orang baru di lapangan tennis Bidakara, sebelum menjadi orang nomor dua di Indonesia, ia sudah lima tahun menjadi tukang pungut bola tennis. "Siapa saja yang main tennis di sini, yang bertugas ngambil bola ya saya dna teman saya. Jadi kami sudah saling kenal dan saling tahu. Bahkan saya juga sering diminta untuk beli makanan atau membelikan minuman. Kebetulan di sini juga berjualan minuman kan. Jadi gak ada masalah," ujarnya.

Yang membanggakan lagi bagi Aldi adalah ketika menjadi pemungut bola bagi bapak-bapak dan ibu-ibu pegawai Bank Indonesia (BI). Yakni, dirinya sering kali mendapat uang tips ketika usai bertugas. Bahkan ia juga mendapat uang tips dari ibu wapres.

"Kalau soal uang tips ya seringlah bapak-bapak ngasih ke saya. Ibu Boediono juga sering kok ngasih ke saya dan teman saya. Jadi mereka baik-baik semua," katanya.

Yang tidak mengenakkan bagi Aldi saat ini, ia harus berhadapan dengan Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres ) ketika Ny Boedino sedang bermain. "Penjagaannya ketat banget, jadi saya gak boleh sembarang bawa teman. Kalau pas Paspampresnya enak dan sabar-sabar itu yang saya seneng banget ketika jaga. Tapi kalau pas yang galak, aduh amit-amit. Takut banget. Jadi kikuk sendiri," ujar Aldi sambil bersiap-siap menuju lapangan untuk menjadi penjaga bola.

Ternyata, honor yang diterima Aldi selama ini tidak sebesar yang kita bayangkan. Menurut Aldi, ia perhari dibayar Rp 10.000. Mau berapa orang yang main, yang pasti dia dalam sehari mendapat honor Rp 10.000. Kalau berjaga selama 30 hari otomatis ia mengantongi uang Rp 300.000.

"Katanya sih mau dinaikin dan tidak Rp 10.000 lagi. Kalau bilang kurang ya kurang, kalau dibilang cukup ya harus dicukup-cukupin. Kan juga dapat tips, jadi ya kita syukuri aja deh," ujarnya.

Menjadi pemungut bola adalah daya tarik tersendiri bagi Aldi. Di saat lapangan kosong, ia bisa bermain teniss dan mengeluarkan segala kemampuannya di lapangan tennis.

"Saya juga bisa main tennis dan hobi banget main tennis. Jadi ketika lapangan kosong saya pakai sama temen-teman untuk bertanding. Siapa tahu lain waktu bisa jadi pemian tennis beneran dan bisa juara he..he..," kelakarnya smabil minta izin untuk menjalankan tugasnya. (Persda network/yon)

Sumber :
Persda Network