TANGERANG, KOMPAS.com — Polisi menduga senjata yang digunakan pelaku penembakan terhadap empat orang suporter Persikota Tangerang, Selasa (22/12/2009) petang, bukanlah senjata api. Demikian dikatakan Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Kota Komisaris Budhi Herdi Susianto yang ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah Kota Tangerang.
"Luka di dada dan di leher para korban ukurannya kecil dan tidak dalam," kata Budhi. Ia mengatakan, luka yang diakibatkan senjata api lebih besar dan sifatnya memutar ke dalam. Namun, luka keempat korban tidak seperti itu.
Dalam peristiwa tersebut, jelas Budhi, sebenarnya ada lima korban penembakan. Namun, salah satu korban hanya terluka di tangan dan sudah dipulangkan begitu mendapatkan perawatan di Unit Gawat Darurat.
Peristiwa penembakan itu sendiri terjadi saat arak-arakan suporter Persikota tengah meninggalkan Stadion Benteng, Kota Tangerang, seusai pertandingan Pro Duta Yogyakarta dan Persikota Tangerang. Saat di lapangan Sukun di dekat Kantor Pemerintah Kota Tangerang, tiba-tiba rombongan dihadang warga dan terdengar letusan senjata.
Sementara itu, jenazah AKP Saptomo, seorang anggota Samapta Polres Metro Tangerang Kota yang meninggal dunia saat terjadi kerusuhan tersebut, saat ini masih di ruang pemulasaraan jenazah. Saptomo diduga meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya, bukan karena pukulan seperti yang diperkirakan sebelumnya. Saat itu, ia tengah mengawal rombongan suporter Persikota meninggalkan stadion.
Menurut Budhi, Saptomo baru sekitar 1,5 tahun bertugas di Samapta Polres Metro Tangerang Kota. Sebelumnya, ia menjabat Kanit Reskrim Polsek Ceper, Kota Tangerang.

