JAKARTA, KOMPAS.com — Sopir angkutan umum yang melintasi Jalan Raya Puncak mengeluhkan kemacetan yang kerap terjadi saat musim liburan seperti sekarang ini. Pendapatan para sopir turun drastis selama musim liburan.
Benny (29), sopir angkot 02 jurusan Bogor-Cisarua, mengatakan, sejak libur Natal dia hanya dapat membawa pulang uang belasan ribu selama narik setengah hari.
"Bayar bensin, terus kasih setoran, paling sisanya Rp 10.000 sampai Rp 20.000. Kadang nombok malah. Sekarang aja saya keluar dari pagi baru dapet Rp 8.000," ucap dia ketika ditemui saat ngetem di Simpang Gadog, Bogor.
Biasanya, Benny dapat mengumpulkan uang sekitar Rp 50.000 selama narik setengah hari. "Selama liburan macet terus di Jalan Raya Puncak. Bagusan hari biasa. Banyak anak sekolah," ujarnya.
Benny harus berpikir berkali-kali untuk membawa angkotnya ke arah Cisarua jika terjadi kemacetan parah seperti yang terjadi menjelang pergantian tahun saat ini.
"Kalau penuh (penumpang) baru saya mau naik ke atas (Cisarua). Kalau naik (penumpang) kosong sih mending enggak usah. Mending narik dari Gadog ke Bogor," kata dia sambil selonjoran di belakang setir mobil.
Sistem one way yang diterapkan kepolisian untuk mencairkan kemacetan menjadi salah satu pemicu turunnya pendapatan dia. "Kalau satu arah tetap saja merayap ke arah atas. Bisa dua jam dari Gadog ke Cisarua. Nah, kami bingung turunnya. Bisa ketahan berjam-jam di atas sampai di buka lagi," ujar Benny.
Nasib lebih buruk dialami Didin (35), sopir angkot 02 lainnya. Dia mengaku hanya dapat mengumpulkan uang Rp 4.000 setelah narik sejak pagi tadi. "Naik ke Cisarua dapat Rp 1.500. Turun ke Bogor dapat Rp 2.500. Nombok kayaknya," ucap dia sambil menunjukkan empat lembar uang seribuan.
