JAKARTA, KOMPAS.com — Sebuah kontrakan mewah yang berdiri di tengah perkampungan Depok, Duta Residence, masih menimbulkan keresahan warga karena sampai saat ini pemilik belum menghapus sistem sewa harian yang menurut warga membuka kemungkinan terjadinya praktik mesum.
Hal itu disampaikan seorang tokoh agama masyarakat kampung Sugutamu, Mekarjaya, Sukmajaya, Depok, Abdurrohman, saat berbincang di rumahnya, Jumat (1/1/2010). "Di sana ada minibar, dibuka jam-jaman, jadi banyak yang resah dan mengadu kepada saya sebagai tokoh agama," ujarnya.
Menurut keterangan Abdurrohman, pihak Kecamatan Sukmajaya telah dua kali mengeluarkan surat peringatan kepada pihak pengelola untuk mengubah sistem sewa mereka. "Pak Lurah bilang ke saya, kecamatan sudah mengeluarkan surat dua kali. Kalau yang ketiga nanti enggak diubah juga, Pak Lurah mau turun langsung," katanya.
Abdurrohman juga bercerita bahwa dia dan warga lain pernah melihat beberapa pasangan yang nampaknya bukan suami-istri masuk-keluar ke sana. "Waktu saya hendak shalat subuh bersama di Margonda, saya melihat dua orang yang enggak kaya suami-istrilah. Jauh sekali perbedaan umurnya, keluar dari sana, pakaiannya juga enggak bisa diceritain lagi kaya gimana," ujar Abdurrohman.
Oleh karena itulah, beberapa bulan yang lalu, warga mengeluarkan surat protes yang ditandatangani 200 orang dengan tembusan kelurahan, kecamatan, Wali Kota, kepolisian, hingga DPRD Depok. Menanggapi surat tersebut, menurut Abdurrohman, pemilik tempat kos itu, Edy Faisal, menemui Abdurrohman untuk bermusyawarah.
"Ia datang ke sini. Katanya dia akan mengawasi langsung kontrakannya dan jamin tidak akan ada perbuatan seperti itu lagi," ujar Abdurrohman.
Pemantauan Kompas.com, Duta Residence memang terlihat mewah dan mencolok di antara rumah penduduk di sekitarnya. Sama sekali tak cocok jika hunian eksklusif itu disebut kontrakan atau kos-kosan. Bangunannya mirip sebuah apartemen dengan fasilitas lengkap. Tak jauh dari situ, berdiri sebuah masjid besar milik keluarga Abdurrohman.
