Jumat, 10 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 10 Februari 2012 | 23:08 WIB
BKT "Baru Sekadar" Tembus Laut
Wahyu Satriani Ari Wulan | wsn | Sabtu, 2 Januari 2010 | 14:25 WIB
|
Share:
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Sahudin (54) terpaksa mengangkat sepedanya karena tumpukan tanah lumpur proyek Banjir Kanal Timur (BKT) yang menutupi jalan menuju kampungnya di Rawa Bebek, Pulo Gebang, Jakarta Timur, Sabtu (02/01/2009). CJanji pemerintah merampungkan proyek BKT hingga tembus laut pada akhir tahun 2009 tidak terealisasi. Dilapangan masih banyak ditemui kendala seperti belum rampungnya pengerukkan tanah maupun sengketa lahan dengan warga yang belum juga usai.
Foto:

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Saluran proyek Banjir Kanal Timur atau BKT telah tembus ke laut sesuai target pada akhir Desember 2009. Namun, hingga kini masih banyak pekerjaan fisik yang belum beres. Konstruksi kanal juga belum sepenuhnya selesai karena masih ada sejumlah titik yang pengerukan untuk pelebaran kanalnya belum maksimal.

Di daerah Rawa Bebek, Pulogebang, misalnya, lebar kanal kini baru sekitar 10 meter atau masih jauh dari rencana semula selebar 75 meter. Menurut seorang petugas lapangan proyek, daerah yang belum tergali itu masih ada karena masalah pembebasan tanah yang hingga kini masih bergulir di pengadilan.

"Pembebasan lahannya belum selesai. Ini makanya lebarnya baru 10 meter. Beda kalau yang di ujung sana lebar-lebar semua," ujar Suyan saat ditemui di sekitar lokasi kanal, Rawa Bebek, Jakarta, Sabtu (2/1/2010).

Di sisi kanan dan kiri kanal juga masih tampak tanah yang menggunung bekas galian dan belum dirapikan. Menurut Suyan, pihaknya belum bisa membereskan tanah tersebut karena proses sengketa masih berlangsung. "Tanah itu kan kalau dijual laku. Makanya nanti nunggu siapa yang berhak atas tanah ini," katanya. Demikian juga di Pondok Kopi dan kawasan Haji Miran yang pengerukannya masih tampak belum maksimal.

Di titik lain, misalnya daerah di sekitar kanal di Karang Tengah, Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, justru digunakan untuk membuang sampah oleh warga. Padahal, sampah ini justru akan mengakibatkan banjir bila musim hujan datang.

Masih di daerah Cilincing, sepanjang kanal tersebut juga tampak digunakan untuk memancing atau menjaring ikan oleh sebagian warga sekitar.

Sebenarnya, di sepanjang kanal tersebut telah dipasang sejumlah papan peringatan yang menyatakan bahwa dilarang bermain dan berenang di sekitar lokasi BKT karena berbahaya. Namun tampaknya, peringatan ini hanya dianggap angin lalu oleh warga. Tentu ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Daerah DKI untuk menyempurnakan pembangunan BKT pada tahun 2010.

Pengamat Perkotaan Universitas Trisakti Nirwono Joga saat dihubungi per telepon menambahkan, idealnya BKT dibangun dengan lebar kanal 70 meter. Kemudian di sisi kanan dan kiri ada tambahan lebar sekitar 15 meter untuk jalur inspeksi dan khusus diperuntukkan bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda. "BKT juga setidaknya dipagari kawat berduri," imbuhnya.