Sabtu, 11 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 11 Februari 2012 | 13:45 WIB
Parodi
Dropadi... Oh... Dropa di
| jimbon | Minggu, 17 Januari 2010 | 08:06 WIB
|
Share:

M.LATIEF/KOMPAS IMAGES
Banyak nilai-nilai moral dan budi pekerti yang bisa ditanamkan pada siswa lewat wayang dan dalang. Salah satunya adalah falsafah betik ketitik olo katoro yang ada dalam karakter cerita-cerita wayang.

Samuel Mulia

KOMPAS.com — Saya bukan ahli pewayangan, sama sekali tidak. Pernah sekali waktu saya menulis tentang tokoh pewayangan yang diasumsikan jahat, seorang teman mengirim SMS dan mengatakan saya mesti lebih banyak membaca tentang pewayangan. Saya tidak mengerti maksud nasihat itu. Apa artikel itu salah, apa kurang dalam, sama sekali saya tak tahu.

Sekarang saya terinspirasi lagi seorang tokoh bernama Dropadi, Drupadi, atau Draupadi. Semoga kali ini tak ada yang mengirimkan SMS seperti itu. Tentang Dropadi, ada hal yang menarik dari kacamata saya yang bukan ahli pewayangan, bukan ahli ini dan ahli itu, tetapi manusia biasa dengan IQ biasa-biasa saja yang mampu membuat manusia bernama kepala sekolah menghina tingkat intelektual saya di depan umum.

Menghina I

Sebuah sayembara dibuat Dewi Dropadi. Sasaran di tengah arena dan harus dipanah dengan tepat peserta sayembara, yaitu para ksatria terkemuka di seluruh penjuru daratan Bharatawarsha (India Kuno), termasuk Karna dan Salya. Hadiahnya? Dewi Dropadi akan menjadi istri sang juara. Luar biasa, saya belum pernah melihat lomba yang hadiah utamanya seperti itu. Saya pun tak pernah melihat orang cari jodoh dengan cara itu. Sang Dewi sudah berpikir out of the box.

Singkat cerita, yang berhasil jadi pemenang adalah Karna. Namun, sejuta sayang, Dropadi menolak dengan alasan tidak mau menikah dengan putra seorang kusir. Nah, itu yang membuat saya bingung.

Seingat saya, soal status peserta tak pernah dimasukkan sebagai persyaratan sayembara, kok tiba-tiba bisa membuat persyaratan dadakan. Mungkin saya tak membaca cermat atau memang tak mengerti karena IQ saya pas. Pas untuk dihina, maksudnya.

Sayembara ini hanya ditujukan bagi para ksatria. Nah, ksatria itu ada yang miskin, ada yang kaya, atau yang kelihatan miskin seperti Arjuna yang saat mengikuti sayembara tidak berpakaian sebagai ksatria, malah keluar jadi pemenang dan mendapat Sang Dewi.

Saya tertarik pada pelecehan yang dilakukan Dropadi, manusia terpandang dari kalangan papan atas. Pertama, melanggar aturan main sendiri; kedua, mempermalukan orang di depan umum yang membuat Bung Karna naik pitam.

Jadi, memang benar kalau sampai sekarang aturan dibuat untuk dilanggar, termasuk oleh mereka yang di papan atas, ningrat dan terpandang, dan yang berpendidikan tinggi. Ternyata, pendidikan dan ”jenis golongan darah” tak menjamin apa-apa.

Lanjut ke menghina II

Saat Yudistira menyelenggarakan upacara Rajasuya di Indraprastha, semua ksatria di penjuru Bharatawarsha diundang hadir, termasuk Duryodana dan Dursasana. Keduanya terkagum-kagum dengan suasana balairung Istana Indraprastha. Mereka tidak menyadari di tengah istana terdapat kolam yang airnya begitu jernih sehingga tidak tampak seperti kolam. Saat menikmati indahnya istana, Duryodana dan Dursasana tercebur ke dalam kolam itu.

Kejadian itu membuat Dropadi tertawa terbahak-bahak. Manusia yang ditertawai malunya setengah mati dan tak bisa melupakan penghinaan itu. Cerita ini membuat saya merenung lagi. Setelah menghina Karna, sekarang menghina dua orang lagi. Saya sampai berpikir, apakah perempuan ini memang hobinya menghina sesama?

Dari kejadian macam itu saya berpikir, apa hebatnya kalau orang masih punya kekurangan dan kelebihan? Kalau begitu adanya, mengapa di dunia perlu ada istilah winner dan looser? Lha, wong kalau mau dicek dan ricek, yang winner juga menjadi looser pada waktu bersamaan.

Tak terbayangkan, Arjuna mau menikahi perempuan yang melihat status, ketampanan fisik, hobi menghina, dan sak enak udel-nya sendiri. ”Itu bedanya Arjuna dan kamu,” kata nurani saya. Saya langsung membalas. ”Saya ini tak tertarik pada perempuan.” Eh… nurani saya masih cerewet. ”Memang lo kate laki kagak gitu juga?” Saya langsung menyambar, ”Memang lo pikir gue suka laki?”

Kalau dicermati, TKP dari penghinaan-penghinaan Dropadi bukan di tempat tertutup, tetapi justru di depan umum. Tidakkah itu perilaku yang jauh dari santun? Dilakukan pribadi terpandang pula. Apakah menghina itu pantasnya dilakukan di ruang publik?

Puluhan tahun lalu, semasa duduk di SMP, saya trenyuh melihat film India mengenai penelanjangan Dropadi. Waktu itu saya belum membaca kisah penghinaan yang dilakukan perempuan ini, jadi saya membenci Dursasana, instead of nyukurin Dropadi.

Apakah tindakan tak senonoh yang diterima Dropadi di depan umum sebetulnya tuaian atas apa yang dia tabur selama ini? Bisakah Dropadi juga merasakan bagaimana tak enaknya dihina dan dipermalukan plus ditertawai sebelum mengumbar sumpah emosional? Apakah penghinaan terhadap perempuan oleh pria akan menjadi lebih nelongso, mentrenyuhkan batin dan butuh pengertian, ketimbang perempuan yang menghina pria?

Sosok Dropadi sukses mengingatkan saya untuk tidak menilai dan mengagumi orang berlebihan. Siapa pun mereka, selalu memiliki sisi gelap dan terang. Pahlawan kek, looser kek, pelacur, presiden, Kumbakarna, Dursasana, atau Dropadi kek, pada akhirnya we are all human.

Kategori atau predikat itu menyakitkan. Karena yang kelihatan jahat belum tentu tak memiliki kebaikan. Malah sering terjadi karena kadung dikategorikan, seseorang dianggap harus jahat. Kalau baik, maka salah pun jadi tetap tidak jahat dan tetap dianggap sopan. Pelajaran terbesar yang saya dapat dari perempuan ini adalah berhati-hati dalam menabur agar tak menuai penghinaan!

Samuel Mulia Penulis Mode dan Gaya Hidup

 

Sumber :
Kompas Cetak