TANGERANG, KOMPAS.com - Vonis penjara atas kasus penyuapan terhadap Jaksa Urip Tri Gunawan memang sudah lama dijatuhkan hakim kepada Artalyta Suryani. Tapi mungkin bagi wanita yang akrab disapa Ayin itu, hukuman baru akan mulai dirasakannya hari ini, setelah ia resmi dipindahkan ke paviliun mawar, LP wanita Tangerang, Kamis (21/1/2010) siang.
Jangan bayangkan lagi kemewahan dalam kamar ekslusif yang pernah dirasakan Ayin. Tak ada lagi televisi layar datar dengan perangkat audio video buat berkaraoke. Tak ada pula pendingin udara, spring bed atau pun kamar mandi bersih lengkap dengan shower dan kloset duduk seperti yang "dimilikinya" di LP wanita Pondok Bambu dulu.
Kini, Ayin bersama dua rekannya, Aling dan Darmawati terpaksa tinggal di kamar berukuran 2,5x3 meter dengan kondisi yang memprihatinkan, kotor. Di kamar nomor 12 itu Ayin ditemani dua penghuni lama, Ida Farida, terpidana perkara perbankan dan Yeti Ayuni, terpidana perkara penggelapan uang.
Di kamar Ayin, tempat tidurnya terbuat dari beton yang dilapis dengan pengbungkus kado bercorak, warnanya merah muda. Di dalamnya, terlihat satu kasur dalam kondisi terlipat di kolong tempat tidur yang langsung menjadi lantai kamar itu. Sementara di tingkat dua tempat tidur itu bertumpuk dua kasur. Tempat tidur itu hanya berukuran 75 sentimeter X 2 meter. Di belakang tempat tidur diletakkan sebuah lemari pakaian terbuat dari plastik.
Kondisi lebih menyedihkan ada di kamar mandi. Pintunya terbuka dan tidak ada kain pembatas. Di dalamnya hanya ada kloset jongkok dengan keramik kusam dan sebuah ember. Di dalam kamar mandi yang terbuka bagian atas ini, ada sejumlah gantungan pakaian. Di atas lemari pakaian terdapat rak kecil. Di atas rak itu terdapat dua galon air kemasan berukuran sedang.
Sementara itu, Kondisi kamar Darmawati mirip dengan kamar Ayin. Namun, kamar Darmawati masih terlihat lebih rapih. Tempat tidur terbungkus dengan kertas bercorak berwarna merah. Di salah satu sudut tembok, tepatnya satu meter di atas tempat tidur, terdapat dua rak yang dibungkus dengan kertas bercorak warna kuning. Pintu kamar mandinya, hanya dibatasi dengan pembatas berbahan plastik tipis berwarna biru muda. Tapi, lantai kamar mandi dan kloset juga kotor dan kusam.
Aling mungkin sedikit beruntung. Kamar Aling, di paviliun anggrek masih terlihat lebih bersih dari kamar Ayin dan Darmawati. Tempat tidur dibungkus dengan kertas bercorak berwarna hijau tua. Tiang dinding kamar mandi dicat berwarna hijau tua yang dipadukan dengan cat dinding berwarna putih. Di atas lemari terdapat lima buah botol minuman kemasan untuk ukuran air satu liter.
Sungguh, tak ada lagi kemewahan dan kenyamanan di sini. Ayin, Aling dan Darmawati kelihatannya baru bakal memulai masa hukumannya di sini, setelah segala kenyamanan bak hotel berbintang yang dinikmatinya di Pondok Bambu hilang....
