Minggu, 21 September 2014

News / Megapolitan

Cirebon-Bandung-Jakarta Akan Tersambung Monorel

Selasa, 26 Januari 2010 | 10:45 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com — Konsorsium 15 perusahaan dari Amerika Serikat, Jerman, dan Malaysia berencana membangun jaringan monorel sepanjang 357 kilometer yang menghubungkan Cirebon-Bandung-Jakarta. Sistem transportasi modern yang diperkirakan menelan investasi sekitar Rp 30 triliun itu rencananya menggunakan bahan bakar hidrogen.

Ketua Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Komite Singapura Iwan Dermawan Hanafie, Senin (25/1/2010) malam di Bandung, mengatakan, pembangunan jaringan monorel untuk menopang moda kereta semacam Shinkansen tersebut berpotensi mengembangkan perekonomian daerah. "Selain itu, monorel juga merupakan solusi yang tepat menyediakan sarana transportasi massal. Monorel juga tidak membutuhkan lahan terlalu luas sehingga diharapkan pembebasan lahan tidak jadi kendala," ujarnya.

Menurut Iwan, proyek tersebut merupakan salah satu dari sejumlah proyek pembangunan koridor ekonomi Jabar yang mencakup Bandung, Sumedang, Majalengka, dan Cirebon. Luas koridor ekonomi tersebut sekitar 7.200 km persegi atau lebih kurang seluas Silicon Valley di California 6.539 km persegi.

Proyek investasi yang dikoordinasi CAEDZ LLC (The Eco Synesis Group) tersebut bernama Hydrogen Hi-Speed Rail Super Way (H2RSH). Jaringan monorel rencananya melintasi Cirebon-Bandara Kertajati Majalengka-Sumedang-Bandung-Cianjur-Sukabumi-Bogor-Depok-Bandara Soekarno Hatta Tangerang-Jakarta.

"Proyek tersebut akan melibatkan tiga provinsi, yakni Jabar, Banten, dan DKI Jakarta. Dari beberapa pertemuan dengan konsorsium itu sebelumnya, minat mereka sangat serius. Saya juga telah menerima surat resmi dari Konsul Ekonomi Konsulat Jenderal RI di Los Angeles yang menyaksikan penandatanganan nota kesepakatan pembangunan proyek tersebut," ujarnya.

Saat ini, konsorsium perusahaan asing itu telah memulai studi kelayakan. Selain ramah lingkungan, jaringan monorel tersebut juga akan berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik.

Kendala

Sementara itu, pakar transportasi Institut Teknologi Bandung, Ofyar Z Tamin, menilai, rencana pembangunan megaproyek monorel sedikit ambisius jika diterapkan di Indonesia. Menurut dia, pembangunan proyek ini memang memungkinkan, tetapi akan sangat banyak kendala, baik di sisi sosial, ekonomi, maupun lingkungan.

Ofyar mengatakan, transportasi monorel memang dapat menjadi pilihan pemerintah untuk mengurangi beban lalu lintas. Namun, biaya sosial dan ekonominya terlalu tinggi.

Ketua Kadin Komite Singapura, pihak yang memfasilitasi investasi tersebut, mengakui, akan ada pro dan kontra terhadap rencana pembangunan monorel dengan kereta yang disebut lebih canggih dan cepat dibandingkan Shinkansen dan Bullet Train di Jepang maupun kereta supercepat di Paris.

"Kami tahu memang akan selalu ada pro-kontra. Namun, saya bisa menjamin keseriusan investasi ini. Jadi, apa pun kendalanya, konsorsium itu sudah berkomitmen untuk menghadapinya," ungkapnya.

Menurut Iwan, studi kelayakan (feasibility study) proyek tersebut diperkirakan memakan waktu satu tahun. Pengerjaan proyek diprediksi lebih kurang dua tahun.


Editor : mbonk