Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 09:13 WIB
Waspada Longsor di Akhir Musim Hujan
| Selasa, 9 Februari 2010 | 16:21 WIB
|
Share:

 

Bandung, Kompas - Penduduk di daerah berkontur tebing terjal dan rawan gerakan tanah diminta mewaspadai terjadinya longsor pada akhir musim hujan atau sekitar Februari 2010. Biasanya curah hujan pada akhir musim hujan lebih tinggi daripada awal atau pertengahan musim.

"Kejadian gerakan tanah tidak hanya melanda daerah pedesaan, tapi juga perkotaan. Akan semakin berbahaya bila di daerah itu pernah terjadi gerakan tanah dan masih dihuni banyak penduduk," kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Surono, Senin (8/2) di Bandung.

Surono menuturkan, ada beberapa daerah yang dipantau ketat pada bulan ini, seperti Kabupaten Sukabumi, Cianjur, Kota Bandung, dan Garut. Alasannya, belum lama ini di daerah itu sempat terjadi longsor yang membahayakan.

Longsor di Kabupaten Sukabumi menyebabkan lima rumah rusak berat dan 41 rumah rusak ringan. Adapun longsor Kabupaten Garut menyebabkan dua orang tewas, beberapa rumah tertimbun, dan akses transportasi tertutup tanah.

Selain itu, wilayah perkotaan juga tidak luput dari bencana yang sama. Terakhir terjadi longsor di Kecamatan Cidadap, Kota Bandung, yang menimbun tujuh rumah, akhir pekan lalu.

Khusus Kota Bandung, selain Cidadap, wilayah yang rawan gerakan tanah adalah Bukit Jarian dan Ciumbuleuit. Tanah ambles dan longsor kecil pernah beberapa kali terjadi di wilayah itu. Menurut Surono, sebenarnya tujuh rumah di Cidadap telah direkomendasikan untuk direlokasi pada Januari lalu. Rumah-rumah tersebut terletak di tebing tanah di sekitar lembah Cikapundung. Hujan deras berpotensi menggerus tanah di atasnya dan mengikis alur sungai sehingga berpotensi menimbulkan longsor. Cepat bertindak

Oleh karena itu, ia berharap pemerintah daerah cepat bertindak dan memberikan pemahaman bencana kepada masyarakat sekitarnya. Harapannya, mereka paham pindah ke daerah yang telah ditentukan faktor keamanannya.

"Gerakan tanah bisa terjadi di mana saja. Kontur tanah terjal, minimnya daya serap air tanah yang buruk akibat alih fungsi lahan, dan penahanan dinding tanah yang buruk menjadi penyebab utamanya," kata Surono.

Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Bandung, Deni Septiandi, mengatakan, menurut perkiraan cuaca BMKG, bulan ini adalah akhir musim hujan. Namun, ia mengatakan, dalam beberapa hari ke depan cuaca ekstrem masih akan terjadi di Jawa Barat. Warga yang beraktivitas di laut, tinggal di daerah rawan banjir, atau longsor diharapkan tetap waspada.

"Curah hujannya pun masih tergolong tinggi, lebih dari 50 milimeter per detik dengan durasi lebih dari satu jam. Hal ini cukup berbahaya bagi daerah dengan tingkat kerentanan tanah menengah hingga tinggi," ujar Deni. (CHE)