DEPOK, KOMPAS.com — Gunawan Saputra benar-benar tak berdaya. Anak berusia 6 tahun itu hanya bisa tergolek lemah di rumahnya di Gang Mandor Saun No 34, RT 06 RW 01 Tanah Baru, Beji, Kota Depok.
Badan Gunawan kurus seperti kekurangan gizi dan bola matanya menonjol keluar. Ya, selain kebutuhan gizinya kurang terpenuhi, putra bungsu pasangan Ny Nami (40)-Luengsiah (alm) itu menderita tumor mata.
"Saya tidak sanggup untuk mengobati dia karena biayanya terlalu besar. Dia pernah dibawa ke Rumah Sakit Bhakti Yuda dan Rumah Sakit Umum Daerah Cibinong. Menurut dokter, anak saya itu kena tumor pada matanya," kata Nami.
Pihak RSUD Cibinong, kata dia, menyarankan agar Gunawan dibawa ke RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. "Kami pun membawanya ke sana. Pihak rumah sakit menyatakan anak ini harus dioperasi dan memerlukan biaya Rp 15 juta," ujarnya sambil menitikkan air mata.
Belum sempat Gunawan dioperasi, sang ayah, Luengsiah, meninggal dunia. "Itu tahun 2006. Sekarang saya sendirian dan makin tidak sanggup mengobatinya," ucap Nami.
Dia mengungkapkan, dirinya sangat sedih bila mendengar jeritan anaknya itu saat merasakan sakit pada mata. Biasanya untuk mengurangi penderitaannya, Gunawan minta dibacakan ayat-ayat suci Al Quran atau didengungkan suara azan. Kemudian kepalanya diikat agar rasa sakitnya berkurang.
"Sebagai seorang ibu, saya merasa pilu bila mendengar jerit kesakitan dia. Saya tidak bisa berbuat banyak kecuali memenuhi permintaannya. Biasanya anak saya itu merasakan kesakitan sebulan sekali," tutur Nami.
Gunawan mulai mengalami kelainan saat berusia lima bulan, diawali dengan kejang-kejang. Setelah itu dia kerap sakit-sakitan sehingga sering dibawa berobat. Harta benda Nami pun pelan-pelan habis dijual untuk membiayai pengobatan tersebut.
Akibat lainnya, Gunawan tidak bisa bersekolah. Setahun lalu dia sempat dimasukkan ke taman pendidikan Al Quran (TPA). Namun, gurunya menyatakan bahwa lebih baik Gunawan diberikan pendidikan di rumah karena kondisi kesehatannya tidak memungkinkan.
"Saya berharap ada bantuan untuk kesembuhan anak saya. Saya seorang diri dan tidak bisa membiayai anak saya berobat," papar Nami.
"Kalau sekadar untuk makan Bu Nami dan anaknya, para tetangga sering memberikan makanan. Tapi, kalau untuk biaya pengobatan, kami tak bisa membantu karena kami juga orang kekurangan," kata Osiah, tetangga Nami. (DOD)


