JAKARTA, KOMPAS.com - Selain kue keranjang, perayaan Imlek selalu dimeriahkan dengan kehadiran bandeng.
Bagi etnis Tionghoa, bandeng Imlek merupakan salah satu sajian yang dihidangkan pada saat sembahyang menyambut tahun baru. Uniknya, menjelang Tahun Baru Imlek ini, sebagian besar pembeli bandeng Imlek di kawasan Pasar Rawa Belong, Jakarta Barat, justru berasal dari warga Betawi.
"Kebanyakan itu justru orang Betawi. Yang Tionghoa justru hanya sedikit. Ya soalnya sudah tradisi orang Betawi juga ya dengan bandeng tahunan ini. Tradisinya sudah membaur dengan Tionghoa," kata Ramin, salah seorang pedagang bandeng di Pasar Rawa Belong kepada Kompas.com, Jakarta, Rabu (10/2/2010).
Bagi warga Betawi, Tahun Baru Imlek identik dengan tradisi mengantar ikan bandeng kepada mertua. Tradisi ini biasanya hanya dilakukan oleh pihak menantu pria kepada mertuanya. Meski hukumnya tidak wajib, tradisi mengantar bandeng ke mertua ini masih dipegang teguh oleh pria-pria Betawi. Sebab, jika mereka tidak melakukannya, siap-siap saja mereka akan diacuhkan oleh sang mertua.
"Kalau enggak nganter (bandeng), enggak kesohor sama mertuanya. Ya, tradisinya memang begitu. Yang punya rezeki, paling banyak nganternya. Malahan, banyak yang pada saingan antarmenantu karena ingin yang lebih banyak nganternya," kata Ramin.
Biasanya, bandeng tersebut lantas digoreng atau dimasak dengan kuah dan disantap bersama keluarga.
Ramin yang warga Kemanggisan, Jakarta Barat, itu mengaku telah berjualan bandeng tahunan di Pasar Rawa Belong sejak 1969. Pria 58 tahun ini mengatakan, dia mendapatkan bandeng dari Muara Baru dan Muara Angke, Jakarta Utara.
Bandeng Imlek yang dijual pedagang di Rawa Belong, lain dengan bandeng sehari-harinya yang dijual di pasar atau pedagang sayur keliling. Pasalnya, bandeng ini kehadirannnya hanya setahun sekali dan ukurannya cenderung lebih besar dibandingkan bandeng biasa.
"Kalau bandeng Imlek itu lebih banyak lemaknya," kata Ramin.


