BOGOR, KOMPAS.com — Kepala Bagian Kemasyarakatan Kota Bogor Eko Prabowo mengatakan, wilayah Bogor merupakan kawasan rawan bencana yang salah satunya adalah longsor.
"Setiap kali musim penghujan, wilayah Bogor memang daerah rawan bencana, salah satunya longsor," ujar Eko di Bogor, Rabu (10/2/2010).
Eko mengatakan, longsor yang terjadi telah merusak banyak rumah warga. Sepanjang tahun 2010 dari Januari hingga Februari, 35 rumah warga tercatat telah rusak akibat bencana longsor.
Selain disebabkan longsor, bencana banjir, kebakaran, dan puting beliung juga menyumbang kerugian pemerintah.
"Data yang tercatat dari Januari hingga Februari sebanyak 35 rumah rusak ringan dan parah. Kerugian mencapai Rp 700 juta," ujarnya.
Menurut Eko, kebanyakan rumah warga yang rusak diterjang longsor berada di daerah rawan langsor, seperti di pinggiran sungai dan tebing.
Selain rumah warga, bencana juga merusak fasilitas umum, seperti jalan, dan talud (penahan tebing) yang jebol diterjang air.
Untuk mengurangi jumlah korban dan kerugian, Pemerintah Kota Bogor telah mengimbau warga untuk tidak mendirikan bangunan rumah di lokasi yang sama.
"Sebetulnya setiap kali terjadi longsor, kami telah meminta kepada warga untuk tidak membangun kembali rumahnya di lokasi yang sama. Namun kenyataannya, mereka tetap saja membangun rumah di lokasi yang sama," ujar Eko.
Menurut Eko, selama ini setiap kali terjadi bencana alam seperti longsor, banjir, atau puting beliung, Pemkot Bogor cepat tanggap membantu warga yang terkena musibah.
"Tahap awal, kami diberikan bantuan tanggap darurat berupa bantuan dana untuk kontrak rumah serta bantuan lainnya berupa makan an dan kebutuhan lainnya," ungkapnya.
Eko mengatakan, bantuan diberikan secara langsung melalui lurah setempat yang akan menyalurkannya lagi ke masyarakat yang terkena musibah.
Eko kembali mengimbau kepada masyarakat untuk tidak lagi membangun rumah di lokasi yang pernah longsor.

