JAKARTA, KOMPAS.com — Bolos sekolah atau dikenal dengan istilah "madol" atau "cabut" tak selalu diberi cap negatif. Bagi siswa-siswi SMA di Sekolah High/Scope Indonesia (SHI), membolos justru dijadikan inspirasi membuat film, yang akhirnya justru menjadi cara menyadarkan siswa bahwa tidak ada gunanya membolos.
Para siswa SHI yang tergabung dalam klub film "Xtrim Film" tersebut menjadikan fenomena bolos sekolah sebagai ide membuat tiga judul film sekuel, yaitu Escape, Escape: The Run Away, dan Escape: In the Night. Ketiga film tersebut diputar dalam gelaran Art Week 2010 di Theater Box SHI, Jumat (12/2/2010) lalu.
"Dari film-film ini kami berani katakan bahwa membolos juga bisa dijadikan pelajaran. Kita ingin lihat, di mana sih serunya membolos dan apa yang mereka dapatkan dengan membolos. Ternyata, dari semua teman yang kami tanyakan, lama-lama membolos itu membosankan dan tidak berguna, di sinilah nilai moral yang kami angkat," ujar IGN Adhiwijananda (18), sutradara film tersebut.
Adhi mengungkapkan, para siswa yang ikut menjadi anggota klub film dan berpartisipasi aktif memproduksi film ini rata-rata adalah siswa kelas tiga yang sudah mengambil kelas film. Sebagai pekerja "film sekolah", mereka ingin punya sesuatu yang berbeda dari film yang bisa ditonton oleh rata-rata siswa SMA.
"Cari tema yang dekat dengan dunia di sekitar kita, tapi kita tidak mau terjebak oleh tema-tema yang melulu cengeng. Lebih dari itu, harus ada nilai moral yang kami angkat agar film ini punya nilai di mata yang menikmatinya," ujar siswa kelas 3 Bahasa ini.
Sementara itu, menurut guru film SHI yang juga penanggung jawab gelaran Art Week 2010 Ekky Imanjaya, kebebasan berekspresi siswa seperti pada pemilihan tema membolos sebagai tema film adalah salah satu bentuk keberhasilan siswa setelah belajar tentang dunia film yang sebenarnya. Karena selama ini, kata Ekky, siswa tidak semata diajarkan membuat film secara teknis, mulai dari pengambilan gambar, akting atau editing.
"Mereka juga diberikan kesempatan memahami dan terbiasa dengan kritik film atau mass media critism sebagai bagian dari pelajaran kelas film tersebut," ujarnya.
Hal itu, tambah Ekky, karena yang ingin diarahkannya sebagai pendidik adalah setiap karya yang dibuat para siswa harus selalu punya nilai dan tujuan. Film tidak semata hiburan dan produk industri hiburan itu sendiri.
"Harus ada nilai lebih, sehingga dengan begitu mereka jadi lebih tertantang untuk membuat karya yang bermutu, karena tidak sebatas hanya ingin menghibur orang," tambahnya.
