Pemberlakuan Perjanjian Perdagangan Bebas Asean-China (ACFTA) sejak 1 Januari 2010 diakui atau tidak akan semakin membuka peluang China untuk melakukan penetrasi pasar di Jawa Timur. Dalam enam tahun terakhir saja, sebelum perjanjian tersebut diterapkan, nilai impor dari China ke provinsi ini sudah mengalami lonjakan.
Hal ini terlihat dari perkembangan nilai impor China ke Jatim. Sepanjang tahun 2004-2009 rata-rata pertumbuhan nilai impor dari negeri tirai bambu ini mencapai 25,6 persen per tahun. Kenaikan paling tajam terjadi pada tahun 2007 dengan nilai impor mencapai 1,6 miliar dollar AS atau naik 88,3 persen dibanding tahun 2006.
Tahun 2008 angkanya meningkat 43 persen menjadi 2,3 miliar dollar AS. Meskipun tahun 2009 nilai impor sempat menurun sampai 17,8 persen, sumbangan impor China terhadap total nilai impor Jatim meningkat lebih dari 7 persen dibanding tahun 2008.
Data pertumbuhan impor dari China yang meningkat ini tidak terpengaruh dengan kondisi total impor Jatim yang justru menurun. Realisasi total impor Jatim 2009 mencapai 11,267 miliar dollar AS atau anjlok sekitar 36,2 persen dibanding kondisi tahun 2008 yang mencapai 17,658 miliar dollar AS.
Kondisi berbeda terjadi pada perkembangan ekspor ke China. Jika nilai impor cenderung melonjak, nilai ekspornya justru belum menunjukkan tren kemajuan. Setidaknya dalam periode yang sama pertumbuhan ekspor ke negara tersebut relatif tidak sebesar nilai impor. Meskipun pada tahun 2009 angkanya naik 17 persen dibanding tahun 2008, dilihat dari rata-rata pertumbuhan ekspor angkanya hanya mencapai 17 persen, jauh di atas pertumbuhan nilai impor yang mencapai 25,6 persen.
Hal ini menjadi sinyal adanya kesenjangan antara laju nilai impor dan nilai ekspor ke China. Perbedaan juga terjadi antara volume barang yang dikirim ke China dan barang produk China yang masuk ke Jatim. Jika dilihat dari data beberapa tahun terakhir, volume impor dari China cenderung meningkat dibanding volume ekspor Jatim ke negara itu.
Melihat perbandingan nilai ekspor dan impor Jatim ke China, pemberlakuan ACFTA akan menjadi peluang sekaligus tantangan bagi industri di Jatim. Gencarnya produk China masuk ke pasar Jatim menjadi cambuk bagi pelaku usaha lokal untuk lebih meningkatkan kualitas produknya agar bisa bersaing. Jika gagal, tentu akan menjadi bumerang bagi masa depan industri dan produk Jatim. (Yohan Wahyu/Litbang Kompas)
