Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 10:52 WIB
BENNY-MICE
| Minggu, 7 Maret 2010 | 04:16 WIB
|
Share:

Inilah bentuk tubuh orang yang keseringan naik angkot: badan melengkung seperti ditekuk sebatas pinggang. Berlebihan? Begitulah kartun Benny-Mice yang memang bergaya hiperbolik atau—dalam bahasa ABG sekarang—”lebay”. Budi Suwarna

Meski begitu, kartun Benny-Mice tidak kehilangan konteks. Pasalnya, sebagian realitas sosial yang mereka potret melalui kartun memang benar-benar lebay alias berlebihan.

Kartun-kartun Benny-Mice itu kembali dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) tanggal 4-14 Maret 2010 dalam tajuk ”Benny & Mice Expo”. Pameran ini diselenggarakan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) yang bekerja sama dengan BBJ dan Unilever Indonesia. Setelah dari BBJ, kartun Benny-Mice akan dipamerkan di Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Bali.

Di BBJ, duo kartunis Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad, pencipta sosok kartun Benny-Mice, memamerkan karya tahun 1997 hingga 2010. Sebagian kartun diambil dari buku-buku yang telah mereka terbitkan, sebagian lagi dari kartun strip yang terbit di Kompas, Kontan, dan Surabaya Post. Di luar itu, ada beberapa kartun bertema peduli pemanasan global, sebagai bagian dari propaganda pameran ini.

Praktis, sebagian kartun yang mereka pamerkan telah dikenal penikmatnya. Namun, melihat kartun Benny-Mice, kita tidak akan bosan sebab selain lucu dan nakal, kartun tersebut sesungguhnya menyegarkan kembali ingatan kita atas kelucuan, kegagapan, kesoktahuan, norak, dan sikap lebay alias berlebihan yang pernah kita lihat dan alami dalam kehidupan sehari-hari.

Ketinggalan

Tengok saja bagaimana Mice tidak mau ketinggalan dengan ”tren” memakai kawat gigi. Dia pun menggunakan kawat gigi superbesar agar tidak kalah dengan orang lain. Ketika demam ”bike to work” melanda Jakarta, Benny-Mice pun tidak mau ketinggalan. Mereka nekat ”walk to work” dari Depok ke kantor di Jalan Sudirman, Jakarta. Bukan tidak mungkin, kita pernah melakukan kekonyolan yang sama.

Muhammad Misrad mengatakan, kisah kartun Benny-Mice diambil dari realitas sosial di sekitar kita. ”Itu semua bukan karangan. Itu hasil pengamatan kami,” kata Misrad.

”Kami mengamati secara detail setiap obyek. Kalau gambar bajaj, kios rokok, sampai mal harus benar dan apa adanya,” tambah Benny.

Dari pengamatan itulah, duo kartunis itu memotret persoalan sehari-hari secara pas, mulai antre sembako, PHK, kemacetan lalu lintas, pesta diskon di mal, demam telepon genggam, hingga acara televisi yang didominasi sinetron kacangan.

Semua itu menjadi lebih segar dan hidup karena Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad sengaja memotretnya dengan pendekatan lebay tadi.

Tetapi, begitulah sifat kartun bukan? Selalu hiperbolik dari realitas linier yang melanda kita dalam kehidupan sehari-hari. Tugas para penciptanya menyortir serak-serak realitas linier itu menjadi semacam parodi, ironi, sindiran, atau bahkan sekadar menertawakan kekonyolan dan kenorakan perilaku kita.

Bahasa konteks

Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada, Arie Sujito, mengatakan, kartun Benny-Mice sebenarnya adalah bagian dari tradisi kritik kebudayaan yang disampaikan dengan bahasa sopan namun menggelitik dan membuat orang berpikir.

”Inilah kelebihan kartun. Dia bisa memaksa orang untuk menafsir pesan sesuai sudut pandang masing-masing. Kartun juga jauh lebih menarik, imajinatif, dan menginspirasi, terutama bagi orang-orang yang mengerti konteks kebudayaan di mana kartun itu dilahirkan,” kata Arie.

Menurut Arie, salah satu kekuatan kartun Benny-Mice adalah pesan dan kritik bisa disampaikan dengan bahasa dan simbol-simbol yang amat populer dan mudah ditangkap penikmat dari kalangan mana pun.

Begitulah. Seorang laki-laki warga Australia yang datang ke pameran kartun Benny-Mice, Kamis (4/3) sore, pun mengaku bisa tertawa melihat kartun tersebut. ”Saya jadi malu kalau naik angkot. Badan saya jadi bungkuk seperti kartun Anda,” kata dia dengan bahasa Indonesia terpatah-patah kepada Muhammad Misrad.

Tertawa barangkali hanya salah satu ekspresi paling kentara setelah menyimak tingkah laku Benny dan Mice yang konyol, tetapi penuh sindiran. Pada saat itu sesungguhnya kedua tokoh rekaan itu, yang menjadi pengamat sosial superpeka—bahkan jika dibandingkan dengan anggota DPR sekalipun—sedang mengajak kita tamasya menelisik diri sendiri. Jangan-jangan kekonyolan itu sering kita lakukan, cuma tidak teramati atau malu ketahuan orang lain. Jika begitu, tertawalah keras-keras setelah disindir oleh Benny dan Mice. Itu sehat!