Kamis, 24 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Kamis, 24 Mei 2012 | 23:45 WIB
Kapolri: Polri Bekerja Bukan karena Imbalan
Sandro Gatra | msh | Rabu, 10 Maret 2010 | 16:23 WIB
|
Share:

DHONI SETIAWAN/KOMPAS.com
Kapolri, Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri menunjukkan foto gembong teroris, Dulmatin alias Amar Usman alias Muktamar alias Djoko Pitono di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (10/3/2010). Dulmatin bersama dua pengawalnya Ridwan dan Hasan Nour tewas saat penyergapan Densus 88 di Pamulang beberapa waktu lalu. KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Polri Jenderal (Pol) Bambang Hendarso Danuri menegaskan, dia dan jajarannya bekerja memberantas jaringan terorisme di Indonesia bukan karena imbalan uang atau dalam bentuk apa pun. Termasuk ketika Polri akhirnya berhasil menewaskan Dulmatin alias Yahya Ibrahim alias Mansyur alias Joko Pitono.

"Tentunya kita bekerja bukan berdasarkan ini (uang), tapi hakikat ancaman yang kita hadapi. Jadi tidak ada kaitannya dengan janji mau diberikan apa pun karena panggilan tugas," ucap Kapolri saat jumpa pers di Mabes Polri, Rabu (10/3/2010).

Sebelumnya Kapolri ditanya mengenai imbalan yang dijanjikan pemerintah Amerika Serikat bagi siapa pun yang berhasil menangkap Dulmatin. Gembong teroris itu tewas saat penggerebekan di Pamulang, Tangerang Selatan.

Seperti diberitakan, Dulmatin menjadi salah satu aktor penting dalam peledakan Bom Bali I tahun 2002 bersama Ali Imron sebagai perakit bom. Kemampuan Dulmatin dalam merakit bom lebih tinggi dibanding Dr Azhari.

Anak kelima dari enam bersaudara pasangan Masriati dan Usman Sofi itu dihargai 10 juta dollar AS oleh pemerintah Amerika Serikat.