Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 08:11 WIB
Di Pamulang,
Dulmatin Tinggal Bersama Anak dan Istrinya
Leo Sunu | Edj | Rabu, 10 Maret 2010 | 19:03 WIB
|
Share:

DHONI SETIAWAN
Kepala Pusdokkes Mabes Polri Brigjen Pol dr Musaddeq Ishaq menunjukkan foto tersangka teroris Dulmatin di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (10/3/2010). Pihak kepolisian melalui hasil tes DNA dan ciri fisik lainnya, memastikan Dulmatin sebagai salah satu dari tiga tersangka teroris yang tewas saat penggerebekan di daerah Pamulang, Selasa 9 Maret 2010. KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN

TERKAIT:

JAKARTA, KOMPAS.com - Yahya Ibrahim alias Joko Pitono alias Dulmatin diketahui pernah tinggal dan mengontrak di sebuah kontrakan di Jalan Salak 5, Kelurahan Pondok Benda, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, selama delapan bulan terakhir. Dulmatin dikenal warga dengan nama Ibrahim. Ia tinggal bersama istri dan seorang anaknya. 

"Kami kenalnya dia namanya Ibrahim. Tinggal di sini sama anak dan istrinya. Kita tahunya tadi pas liat di televisi. Yang Dulmatin itu ya Ibrahim ini," kata Sinurat, salah seorang warga Jalan Salak 5, yang juga tetangga Ibrahim kepada Kompas.com, Rabu ( 10/3/2010 ). 

Ibrahim diketahui warga tinggal bersama istri dan seorang anaknya bernama Rumaisoh (6). "Kalau istrinya, kita enggak tahu namanya. Soalnya enggak pernah ngenalin dan ngobrol sama kita," ujar Maisaroh, juga tetangga Ibrahim.

Mengenai sosok istri Dulmatin yang ini, memang masih misterius. Belum diketahui dengan jelas identitas wanita yang diakui Ibrahim kepada tetangga sebagai istrinya ini. Selain warga tidak mengenal namanya, ia pun tidak pernah keluar rumah. "Kalau anaknya kan kadang-kadang suka main keluar. Anaknya perempuan, masih lucu-lucunya," tutur Maisaroh.

Ia menuturkan, Ibrahim sudah tinggal di kontrakan tersebut selama delapan bulan. Namun, dua minggu sebelum terjadi penggerebekan tersebut, Ibrahim serta istri dan anaknya berpamitan dan mengaku hendak pindah. "Dia bilangnya mau pindah ke Lampung. Perginya naik motor bareng istri dan anaknya," kata Maisaroh.

Sinurat menuturkan, selama delapan bulan itu, Ibrahim dan keluarganya bersikap tertutup dan banyak aktivitas yang mencurigakan. Beberapa kali, tamu dengan penampilan berjubah dan bercadar datang bertamu. "Kalau istrinya itu pakai gamis dan cadar. Kalau saya sih bawaannya udah curigaan aja ngeliat orang kayak begitu," terangnya.

Lokasi kontrakan Ibrahim ini terbilang agak terpencil. Selain jauh dari jalan raya, posisinya juga agak pelosok di dalam gang. Kontrakannya juga tergolong sepi. Selama tinggal di rumah, tidak banyak aktivitas Ibrahim dan keluarga yang diketahui warga.

Sinurat dan warga lainnya baru menyadari bahwa Ibrahim merupakan Dulmatin seperti yang diberitakan setelah menonton di televisi. Sebelumnya, ia mengatakan, beberapa hari setelah Ibrahim pindahan, ada seorang polisi yang datang. Pencarian polisi ketika itu tak membuahkan hasil. Pasalnya, Dulmatin sudah pindah dan tidak diketahui keberadaannya.

"Dia nanya saya kemana yang ngontrak itu. Tapi kan udah pindah. Terus kerumah pak RT, dia ternyata dari polisi," tuntasnya.