Minggu, 12 Februari 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Minggu, 12 Februari 2012 | 01:48 WIB
Pembangunan BKT Butuhkan Ilmu Sosial
Icha | Edj | Kamis, 11 Maret 2010 | 16:28 WIB
|
Share:

Pitoyo Subandrio dalam peluncuran buku "Banjir Kanal Timur, Karya Anak Bangsa" yang ditulis wartawan Kompas Robert Adhi Ksp, Kamis (11/3)

JAKARTA, KOMPAS.com — Banjir Kanal Timur (BKT), proyek monumental yang dimulai 2003 ini, akhirnya tembus laut pada akhir Desember 2009.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane Pitoyo Subandrio, selaku penanggung jawab proyek BKT, mengungkapkan, pembangunan BKT tidak sekadar membutuhkan ilmu teknik, tetapi juga ilmu sosial. Hal itu disampaikan Pitoyo saat menghadiri peluncuran buku Banjir Kanal Timur, Karya Anak Bangsa yang ditulis wartawan Kompas Robert Adhi KSP, Kamis (11/3/2010) di Jakarta.

Dikatakan Pitoyo, masalah sosial adalah masalah utama yang mengiringi pembangunan BKT. "Ini bukan masalah teknis karena kami ini orang teknik, tidak boleh ada kesulitan teknis, ini masalah sosial," katanya.

Pembangunan BKT yang tersangkut masalah pembebasan lahan masyarakat tersebut membutuhkan pendekatan sosial yang jitu. "Jadi saya memahami dulu perasaan orang yang tidak mau pindah, membangun dengan hati," tuturnya.

Setelah akhirnya tembus laut, Pitoyo mengatakan, pihaknya akan menyempurnakan BKT dengan membangun jembatan untuk anak sekolah yang rencananya rampung akhir tahun ini.

Buku Banjir Kanal Timur, Karya Anak Bangsa menceritakan proses pembangunan BKT, salah satu karya anak bangsa yang melibatkan otak, otot, dan dana murni dari Indonesia tanpa campur tangan asing. Serta berbagai hambatan dan aspek sosial lainnya yang mengiringi pembangunan kanal terpanjang di Ibu Kota ini.