Sampai Kamis (11/3) pukul 22.30, kebakaran di pabrik sandal Swallow tersebut belum bisa dipadamkan. Bahkan, Suku Dinas Pemadam Kebakaran Jakarta Barat telah mengerahkan 24 mobil pemadam serta menggunakan cairan pemadam api untuk melokalisasi api.
Menurut Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanganan Bencana DKI Jakarta Paimin Napitupulu, sampai saat ini belum ditemukan korban yang terjebak di dalam bangunan. Baru ada empat korban luka-luka karena melompat dari lantai dua. Mereka sudah dilarikan ke rumah sakit,” kata Paimin.
Penyebab awal kebakaran sedang diselidiki, tetapi sudah dipastikan api berasal dari lantai satu. Di lantai satu terdapat gudang yang berisi bahan bakar solar dan bensin sehingga api dari sumber mana pun mudah memicu kebakaran.
Sementara itu pedagang yang menjadi korban kebakaran di Los A Blok VI Pasar Senen berharap dapat kembali berdagang di tempat semula setelah api menghanguskan kios mereka, Kamis tengah malam.
Kebakaran yang melanda lokasi yang didominasi pedagang tas, pakaian, dan buku itu diperkirakan menghabiskan sekitar 300 kios dan tenda pedagang kaki lima. Los ini terletak bersisian dengan Terminal Senen dan berhadapan dengan Atrium Senen.
Uli, pedagang tas, mengaku sulit memprediksi masa depan mata pencariannya setelah kios yang dikontraknya seharga Rp 17 juta per tahun hangus.
Manajer Area 2 PD Pasar Jaya Ivo Edwin Aryanto menjanjikan, pedagang tetap mendapat tempat untuk berjualan. Namun, pihaknya meminta tempo sekitar satu minggu untuk mengecek struktur bangunan yang terbakar.
”Kalau struktur bangunan tidak rusak parah dan masih layak dipergunakan, kami akan segera membangun ulang pasar. Namun, kalau bangunan rusak, harus ada renovasi total,” kata Ivo.
Sementara itu, Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Hamidin mengatakan masih menyelidiki penyebab kebakaran di Pasar Senen.
Dalam kunjungan kerjanya di Puskesmas Kelurahan Krendang, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat, Kamis, Wakil Presiden Boediono mengakui, pemerintah tidak memiliki program perbaikan instalasi listrik yang tidak memenuhi standar teknis PT Perusahaan Listrik Negara dengan pendanaan dari APBN. Warga harus mengganti sendiri instalasi listrik bekerja sama dengan PLN.
Dalam pertemuan itu, tokoh Kelurahan Krendang, Syaifuddin, mengeluhkan instalasi listrik di kawasan permukiman padat Tambora sudah tua dan tidak memenuhi standar PT PLN sehingga rawan kebakaran. Hal itu didasarkan hasil survei PLN sendiri bersama jajaran aparat Kecamatan Tambora baru-baru ini.
”Pemerintah tidak memiliki program seperti itu. Bahkan, APBN pun tidak mengalokasikan anggaran untuk itu. Itu diserahkan ke warga dan PLN sendiri,” tutur Boediono.
Menurut Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono, kebutuhan warga Tambora dapat diakomodasi dengan cara mengintegrasikan program perbaikan instalasi listrik dalam program nasional pemberdayaan masyarakat mandiri perkotaan dan program community social responsibility atau program kepedulian sosial perusahaan.(art/nel,eca/art)
