JAKARTA, KOMPAS.com — Kebakaran di Pasar Inpres Senen, Jakarta Pusat, menyisakan kesedihan bagi ratusan pedagang yang menggantungkan hidupnya di sana. Namun, tidak demikian dengan ratusan pemulung. Mereka mendapatkan berkah dari sisa-sisa barang dagangan.
Ratusan pemulung mulai dari anak-anak hingga orang tua mengambil besi atau aluminium yang terpasang di ribuan tas, baik yang terbakar habis, maupun setengah terbakar. Ribuan tas itu dibiarkan saja oleh para pedagang. Satu demi satu dengan menggunakan silet, mereka melepas resleting tas, besi pengait pegangan tas, atau aksesori tas yang terbuat dari besi.
Ratusan pemulung itu hanya diperbolehkan mengais di depan Blok VI. Mereka yang mulai mengais sejak hari Kamis itu dilarang petugas keamanan yang berjaga ketika mencoba masuk ke dalam pertokoan di lantai dasar.
Setiap kilogram besi yang berhasil dikumpulkan dihargai pengepul sebesar Rp 5.000. "Lumayan sehari bisa dapet enam kilo. Daripada mulung cuma dapet paling Rp 20.000 seharian," ucap Suyatno (36), salah satu pemulung, kepada Kompas.com, Sabtu (13/3/2010).
Bukan hanya pemulung yang memanfaatkan situasi. Pengamen bernama Ajo (8) dan Ato (14) beralih profesi untuk sementara. Kakak beradik itu mengaku dapat mengumpulkan sekitar lima kilogram besi setelah mengais sekitar 10 jam. "Kalo ngamen dapet Rp 20.000 doang, itu bagi dua. Di sini lumayan. Ntar kalo udah habis tasnya, ya balik lagi ngamen," ucap dia.
Seperti diketahui, ratusan kios dan lapak pedagang kaki lima di Blok VI Pasar Inpres Senen ludes terbakar pada Kamis (11/3/2010) pukul 00.30. Api menghanguskan lantai dasar di pelataran pasar dan sebagian lantai II. Biasanya di sana ditawarkan pakaian dan tas-tas bekas.


