KOMPAS.com — Wajah mereka sendu. Di sebuah bangku besi hitam, puluhan orang wanita asal Nusa Tenggara Timur terduduk lesu. Saat melihat Dairo Talu masuk ke lokasi penampungan, tempat mereka tinggal selama berbulan-bulan, air mata tak terbendung lagi.
Kedua tangan dikatupkan di atas kepala, seraya berucap lirih. "Tolong kami, Bapak. Tolong kami, Bapak," kata mereka bersamaan.
Dairo Talu, yang biasa disapa Markus, adalah Ketua Ikatan Keluarga Besar Sumba se-Jabodetabek. Ia mengunjungi ratusan perempuan sekampung halamannya yang ditampung di penampungan tenaga kerja wanita yang disalurkan PT MMJA.
Tak lama, mereka langsung beranjak dari tempat duduknya dan menyalami Markus, bahkan mencium tangan dan memeluknya. "Bawa kami pulang, Bapak. Bawa kami pulang, Bapak," kata Maria Umbulado.
Gadis berusia 19 tahun itu lantas bercerita. Lima bulan sudah ia di penampungan. Bosan dan kebimbangan sudah memenuhi pikirannya. "Orangtua saya kira saya sudah ke Malaysia. Mereka tidak tahu saya masih di Jakarta. Perusahaan bohongi orangtua saya," kata Maria.
Hari Minggu lalu, saat berhasil mengakses ponsel dari salah seorang temannya, Maria langsung menghubungi keluarganya. "Saya bilang, lima bulan belum ada proses ke Malaysia. Mereka suruh saya pulang," kata warga asal Desa Matapiao, Kupang, NTT, ini.
Impian mendapatkan penghidupan yang lebih baik di Malaysia sudah dikuburnya dalam-dalam. Menjalani kehidupan berbulan-bulan di penampungan sudah memupuskan harapannya. "Katong (kami) mau pulang saja. Di sini kaya penjara, enggak boleh keluar. Dari kampung penginnya kerja. Sampai sini sudah enggak niat lagi," ujarnya.
Janji perusahaan penyalur yang akan segera memberangkatkan mereka ke Malaysia sudah tak lagi mereka percaya. TKW lainnya, Novi, mengatakan bahwa mereka tak bisa lagi diimingi janji-janji.
Nasib terkatung-katung para TKW ini disebabkan Malaysia mulai menutup masuknya para pekerja asal Indonesia di sektor informal, seperti pekerja rumah tangga. Sementara itu, pihak perusahaan terus menahan para TKW yang mendesak pulang ke kampung halaman.
Menghilangnya sejumlah rekan membuat mereka diliputi kekhawatiran. "Kami takut dijual. Saya mau kerja baik-baik, mending pulang ke kampung," ujar Novi.
Ia bahkan tak mau menunda sehari untuk tetap tinggal di penampungan itu. "Sehari saja tinggal, sengsara bagi kami. Hari ini juga kami harus pulang," katanya.
Harapan Novi dan ratusan TKW lainnya tengah dinegosiasikan. Perusahaan penyalur merasa sudah mengeluarkan banyak biaya untuk mendatangkan mereka ke Jakarta.
Penyidik Polda Metro hingga Deputi Perlindungan Perempuan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak pun sampai turun tangan. "Kali ini harus berhasil keluarkan kami," harap Novi.


