JAKARTA, KOMPAS.com — Kepala Sekolah Inklusif SMA PGRI 3, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Achmad Sjamsuri berpendapat, sebaiknya siswa tunanetra mendapat soal ujian nasional atau UN dalam bentuk compact disk yang dikerjakan dengan bantuan komputer.
"Saya izin ke Dirjen agar ujian nasional itu bukan braille, tapi CD karena mereka lebih cepat dengan CD," kata Achmad saat ditemui di SMA PGRI 3, Jakarta Selatan, Senin (22/3/2010).
Menurut Achmad, mengerjakan soal dalam huruf braille menyebabkan keterlambatan penyelesaian hingga 40 persen, sedangkan hingga saat ini belum ada penambahan waktu bagi siswa tunanetra.
"Dengan kemajuan teknologi anak-anak kita sudah lebih lancar membaca dengan program JOS," ujarnya.
Program JOS yang dimaksud Achmad adalah software untuk tunanetra yang memungkinkan mereka membaca dengan suara.
"Saat mereka menggerakkan kursor komputer, nanti huruf-hurufnya bunyi, tapi bunyi huruf-hurufnya dalam ejaan bahasa Inggris. Jadi, kalau bunyi kata apa, menjadi ipi," ujar Achmad mencontohkan.
Hal senada dikatakan anggota Tim Pemantau Independen di SMA PGRI 3, Mariana Citra. "Kan mereka pakai braille, saya rasa nanti kelamaan, jadi saya suruh langsung dibacakan saja soalnya sama pendamping," kata Citra.
Hingga berita ini diturunkan, peserta UN di Sekolah Inklusif PGRI 3, yang menggabungkan siswa berkebutuhan khusus dengan siswa normal, masih berkutat menyelesaikan soal. Lima orang siswa berkebutuhan khusus di sana menyelesaikan soal berhuruf braille dengan dibantu seorang pendamping dan pengawas masing-masing siswa.


