Kamis, 28 Agustus 2014

News / Megapolitan

Kolong Jembatan Layang Kampung Melayu Makin Semrawut

Senin, 12 April 2010 | 15:55 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Meski sudah sering ditertibkan, puluhan angkutan umum masih nekat ngetem di kolong jembatan layang Kampung Melayu, tepatnya di sisi barat dan timur Terminal Kampung Melayu.

Akibatnya, lalu lintas di kawasan tersebut, baik di Jalan Jatinegara Barat maupun Jatinegara Timur, selalu mengalami kemacetan setiap saat. Padahal, kawasan tersebut merupakan salah satu titik pantau penilaian Adipura di Jakarta Timur.

Semrawutnya lalu lintas di kawasan tersebut ditengarai karena minimnya petugas kepolisian ataupun Sudin Perhubungan setempat. Dengan demikian, para sopir angkutan dengan leluasa ngetem guna mencari penumpang di daerah terlarang.

Kondisi itu diperparah dengan banyaknya puluhan tukang ojek yang turut mangkal mencari penumpang. Padahal, jauh sebelumnya, sejumlah petugas sering berjaga-jaga di kawasan tersebut mengatur lalu lintas.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Jakarta Timur Murdhani mengaku sangat prihatin dan menyayangkan semrawutnya kawasan Kampung Melayu. Terlebih, kawasan itu merupakan salah satu titik penilaian Adipura yang mestinya harus dijaga ketertibannya.

”Lokasi itu memang sangat strategis bagi angkutan umum untuk mendapatkan penumpang, tapi sayangnya mereka tidak memikirkan efek yang diakibatkannya. Karena itu, saya akan meminta petugas terkait untuk menindak para pelanggar yang menjadi biang kemacetan,” ujar Murdhani, Senin (12/4/2010).

Kasudin Perhubungan Jakarta Timur Viktor Tampubolon mengaku telah rutin melakukan patroli di jalur tersebut. Bahkan, sudah berkali-kali tindakan tegas telah diberikan kepada awak angkutan umum yang melanggar peraturan.

Sayangnya, saat petugas lengah, mereka kembali nakal dan main kucing-kucingan dengan petugas sehingga kawasan Kampung Melayu selalu terkesan semrawut. Karenanya, ia mengancam akan memberikan sanksi lebih berat lagi kepada awak angkutan umum. Bentuknya bisa berupa penyetopan izin operasi angkutan tersebut.

”Selain menambah petugas di kawasan yang sering alami kemacetan, kami juga akan menyetop operasi sementara bagi angkutan umum yang kedapatan melanggar. Kami harap bisa menjadikan efek jera buat mereka,” katanya.

Selain angkutan umum jenis mikrolet, kopaja, dan metromini, kawasan tersebut juga disesaki oleh puluhan ojek sepeda motor yang kerap ngetem. Bahkan, tak sedikit gerobak pedagang kaki lima turut menyumbang kesemrawutan di wilayah tersebut.

Ronny (31), tukang ojek sepeda motor, mengatakan, dia bersama rekan-rekan seprofesinya mangkal di kawasan tersebut karena untuk mendapatkan penumpang sangat mudah. Selain lokasinya strategis, yakni dekat terminal dan halte bus transjakarta, juga dekat dengan permukiman penduduk.

”Orang yang keluar dari halte busway atau terminal biasanya yang langsung dicari adalah tukang ojek. Dalam sehari bisa dapat 15 sampai 20 sewa,” katanya.


Editor : hertanto
Sumber: