JAKARTA, KOMPAS.com — Ali Rahmat (5) tak henti menangis di gendongan ibunya, Ani Sumarni (22). Mereka berdua duduk di tepi jalan di sudut kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Senin (26/4/2010). Sumarni menemani suaminya, Nurdin (26), berjualan rokok asongan. Dari Tasikmalaya, ia datang ke Jakarta bersama putra semata wayangnya, Ali. Sudah seminggu ini mereka ikut "beredar" di jalan bersama Nurdin.
Ali terus menangis bukan karena lapar atau kepanasan. Ia menangis karena menahan rasa sakit. Perutnya membusung besar. Sejumlah bagian tubuhnya pun membengkak. Ali tak bisa berjalan. "Kata dokter ginjalnya bocor. Sudah dua minggu ini dia enggak bisa tidur. Kalaupun tidur paling dua jam, habis itu bangun terus nangis lagi," tutur Sumarni.
Nurdin menambahkan, sudah empat tahun perut Ali membesar. Awalnya, putra semata wayangnya ini mengalami diare berkepanjangan. Mereka sudah pernah membawanya ke tiga rumah sakit di Tasikmalaya. Dokter menyimpulkan, ginjal Ali bocor. "Kita sudah habis biaya berobat, soalnya hanya saya yang kerja, istri tidak bisa ninggalin Si Ali," ujar Nurdin.
Mulanya, Ali tinggal bersama Sumarni di Tasikmalaya. Namun, karena kebutuhan biaya yang besar untuk berobat Ali, Sumarni memutuskan menyusul Nurdin ke Jakarta untuk mencari kerja. Mau kerja apa? "Belum tahu mau kerja apa," kata Sumarni.
Sudah tahu butuh biaya berapa untuk berobat Ali? "Belum tahu. Saya pasrahkan saja dengan Tuhan. Saya hanya berdoa terus untuk kesembuhan anak saya," tutur Nurdin.
Siang ini, di tengah panas terik yang menyengat, di antara debu jalanan, dan deru kendaraan yang lalu lalang, Sumarni menaruh harap bisa segera mendapatkan pekerjaan. Pada upaya kedua orangtuanya nasib Ali digantungkan. Di tengah Bundaran Hotel Indonesia, sosok patung laki-laki dan perempuan melambaikan tangan megucapkan selamat datang. Dan, Ali terus menangis menahan sakit.
