JAKARTA, KOMPAS.com — Pesatnya pertumbuhan kendaraan yang tidak sebanding dengan penambahan ruas jalan di DKI Jakarta selama beberapa tahun terakhir tak ayal menambah parah kemacetan. Salah satu pemicu terus bertambahnya kendaraan pribadi lantaran kian menurunnya kepercayaan publik terhadap angkutan umum.
Publik menilai angkutan umum kian lama tidak mampu memberikan rasa aman, nyaman, dan tepat waktu sampai ke tempat tujuan. Jika permasalahan ini tak segera diatasi, maka DKI Jakarta diperkirakan akan dilanda kebuntuan alias kemacetan total pada tahun 2015. Untuk itu, sistem transportasi massal transjakarta perlu dioptimalkan guna mencegah kemacetan yang kian parah di ibu kota.
"Dari penelitian selama beberapa tahun terakhir, ada ketimpangan antara pertumbuhan kendaraan dan luas jalan. Pertumbuhan mobil per tahun sebesar 11 persen, sepeda motor 50 persen selama 5 tahun terakhir. Adapun jalan hanya bertambah 1 persen per tahun sehingga kemacetan parah terjadi," ujar Muhayat, Sekda Pemprov DKI Jakarta, saat membuka seminar Restrukturisasi Transportasi Publik di DKI Jakarta, Selasa (1/6/2010).
Untuk itu, kata Muhayat, diperlukan penataan dan evaluasi sistem secara menyeluruh guna menghasilkan transportasi sesuai kapasitas, aman, nyaman, mudah diakses dengan tarif terjangkau oleh masyarakat. "Perlu penataan terpadu yang mengacu pada transportasi makro," katanya.
Ia mengakui, sistem busway serta pembangunan banyak underpass dan flyover belum mampu berfungsi secara maksimal untuk mengatasi kemacetan di Ibu Kota. Hal itu disebabkan masih kurang berfungsinya fasilitas pendukung busway sehingga masyarakat belum sepenuhnya berpindah dari kendaraan pribadi. Pasalnya, flyover dan underpass hanya mengurangi kemacetan di persimpangan jalan.
Heru Sutomo dari Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta menjelaskan, fenomena beberapa tahun belakangan ini adalah penumpang angkutan umum memang terus menurun lantaran beralih ke kendaraan pribadi. Hal ini menjadi pemicu utama membengkaknya kendaraan pribadi di jalan yang berujung pada terjadinya kemacetan.
Sebenarnya, kata Heru, Pemprov DKI Jakarta telah tepat menjadikan busway sebagai prioritas. "Itu salah satu keberanian Pemprov DKI Jakarta. Tapi busway belum mampu memindahkan secara maksimal masyarakat dari kendaraan pribadi dan beralih menggunakan busway secara maksimal,” katanya.
Oleh karena itu, Heru menegaskan bahwa optimalisasi busway diperlukan. Pasalnya, saat ini pertambahan jumlah penumpang transjakarta tidak signifikan, yakni hanya 300.000 dari 2 juta orang yang berkegiatan di Jakarta setiap hari.
Salah satu optimalisasi itu adalah dengan merancang rute yang lebih terstruktur agar lebih mudah dipahami masyarakat. "DKI Jakarta harus menjadi yang terdepan dalam melakukan terobosan sistem transportasi, termasuk merancang kembali sistem trayek yang selama ini sudah ada," sarannya.
Pasalnya, ia menilai bahwa sistem trayek selama ini tidak berjalan sesuai pedoman yang berlaku.


