AMBON, KOMPAS -
Pencanangan gerakan bersih pantai dan laut Teluk Ambon sekaligus penanaman sekitar 50.000 bibit pohon bakau di Teluk Ambon dalam rangka Sail Banda dilakukan di Balai Diklat Perikanan di Poka, Ambon.
Selain Fadel, hadir Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu dan Wakil Gubernur Maluku Said Assagaff. Gerakan bersih pantai dan laut serta penanaman pohon bakau ini melibatkan pelajar dan organisasi kepemudaan.
Dalam sambutannya, Fadel mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan pantai dan teluk karena tamu dari sejumlah negara akan datang. Hal itu akan memberikan kesan positif. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono juga dijadwalkan datang ke Ambon pada 3 Agustus.
Namun, sampah masih mengotori teluk dan pantai. Hal itu terlihat di dekat Pasar Ikan Arumbai dan Pasar Mardika. Sampah dibuang ke sungai yang melintas di dua pasar itu dan bermuara di teluk. Padahal, tepat di tengah lokasi pasar sudah ada tempat pembuangan sampah. Warga tampak tidak antusias membersihkan teluk dan pantai.
”Cari mudahnya, kami buang saja ke sungai atau teluk,” kata Juni (45), pedagang setempat.
Warga Desa Poka, Kecamatan Baguala, Ambon, juga mengaku biasa membuang sampah ke teluk. ”Tidak ada gerobak keliling yang mengambil sampah,” kata Kun Tohir (38), warga Poka.
Said Assagaff mengatakan, masyarakat belum sadar akan pentingnya kelestarian teluk bagi generasi penerus sehingga masih membuang sampah sembarangan. Padahal, pencemaran sampah sekaligus berkurang znya pohon bakau di Teluk Ambon berimbas pada berkurangnya jumlah ikan di teluk. Ikan teri yang dijadikan umpan oleh nelayan menangkap ikan cakalang juga sulit ditemukan lagi.
Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Ambon John Leatomu mengatakan, 40 truk sampah yang tersedia hanya bisa mengangkut 600 meter kubik sampah per hari ke instalasi pengolahan sampah terpadu. Sekitar 100 meter kubik sampah diolah warga menjadi kompos atau kerajinan tangan, dikubur, atau dibakar. ”Sisanya, sekitar 200 meter kubik, dibuang sembarangan, termasuk ke sungai dan teluk,” katanya.
Sejumlah gerobak sampah pun disalurkan ke desa-desa. ”Namun, tidak mudah mengubah kebiasaan masyarakat,” kata John Leatomu.
