Sabtu, 1 November 2014

News / Megapolitan

EKSES LEDAKAN TABUNG GAS

Elpiji Tak Aman, Warga "Lirik" Blue Gas

Kamis, 5 Agustus 2010 | 13:39 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Maraknya kejadian ledakan yang diakibatkan tabung elpiji ukuran 3 kilogram menimbulkan keresahan warga. Sejumlah pengguna tabung elpiji produksi Pertamina kini mulai melirik tabung gas produksi swasta, Blue Gas, sebagai alternatif di tengah ledakan yang kerap terjadi.

Blue Gas merupakan produk tabung dan kompor gas yang diproduksi dan didistribusikan oleh PT Blue Gas Indonesia. PT Blue Gas Indonesia merupakan salah satu perusahaan Group Tigaraksa Satria Tbk yang bergerak di bidang industri alat dapur dan pengisian elpiji.

Harry Setiawan (40), salah seorang warga Pondok Kelapa, Jakarta Timur, mengaku sudah tiga bulan belakangan beralih menggunakan Blue Gas. Sebelumnya, Harry biasa memakai elpiji ukuran 12 kilogram produksi Pertamina. "Awalnya, karena di dekat rumah saya ada agen yang menawarkan. Setelah dicoba memang terasa irit dan aman," kata Harry kepada Kompas.com, Kamis (5/8/2010).

Menurut Harry, penggunaan tabung dan komponen Blue Gas terasa lebih efisien dan ekonomis dibandingkan dengan produk tabung gas milik Pertamina. Dia mengatakan, saat menggunakan tabung gas ukuran 12 kilogram produksi Pertamina, biasanya habis dalam tempo sekitar satu setengah bulan.

Sementara saat ini, dengan tabung Blue Gas ukuran 7 kilogram habis terpakai dalam waktu satu bulan. Tabung Blue Gas ukuran 7 kilogram saat ini beredar di pasaran dengan harga rata-tata Rp 55.000. "Ya, ini lebih hemat. Dari segi harga juga lebih murah," kata pegawai perusahaan swasta ini.

Selain hemat, faktor lain yang membuatnya beralih menggunakan tabung Blue Gas adalah faktor keamanan. Dia menuturkan, menggunakan tabung dan komponen kompor Blue Gas terasa jauh lebih aman dan nyaman. Pada regulator tabung Blue Gas terdapat sistem drat ulir untuk mengunci selang dan tabung. Regulator juga akan mengunci otomatis jika terjadi kebocoran. "Kalau yang dulu, saya masih merasa kurang aman. Terutama karena karetnya itu suka kendur dan bunyi kalau kurang kencang," tutur dia.


Editor : Glori K. Wadrianto