YOGYAKARTA, KOMPAS - Produk pegadaian di luar kredit cepat dengan menggadaikan barang masih kurang dikenal masyarakat. Padahal, pegadaian juga menyediakan kredit modal usaha bagi masyarakat.
"Sebagian besar nasabah datang untuk mendapat uang cepat dengan menggadaikan barang," kata Pemimpin Cabang Perum Pegadaian Ngupasan, Kota Yogyakarta, Ramelan Purnomosidi, Rabu (18/8). Menggadaikan barang itu disebut produk kredit cepat aman (KCA).
Salah satu produk yang kurang dikenal masyarakat adalah kredit sistem angsuran vidusia atau kreasi. Produk itu ditujukan bagi pelaku usaha kecil, seperti pemilik warung, pedagang kaki lima, dan pedagang di pasar tradisional.
Untuk mengakses kredit itu, pelaku usaha harus menyerahkan buku pemilik kendaraan bermotor (BPKB) ke pegadaian sebagai jaminan. Dengan begitu, mereka tetap bisa menggunakan sepeda motor.
"Untuk menentukan nilai kreditnya, kami akan melakukan survei dengan melihat kondisi kendaraan, kondisi usaha, serta kemampuan calon nasabah dalam mengangsur," kata Ramelan.
Setelah dinyatakan layak kredit, nasabah bisa memilih mengangsur untuk jangka waktu satu tahun hingga tiga tahun. Bunga 1 persen per bulan.
Menurut Ramelan, pelaku usaha yang perlu tambahan modal untuk mengembangkan usaha bisa mengambil kredit itu. Namun, sejauh ini kebanyakan pelaku usaha memilih menggadaikan barang. Padahal, jangka waktu menggadaikan barang hanya empat bulan dengan risiko dilelang bila tak mampu menebusnya.
Untuk menambah modal usaha menyambut Ramadhan dan Lebaran, kebanyakan pelaku usaha memilih menggadaikan perhiasan emas. Omzet pegadaian dari produk KCA meningkat hingga 20 persen dibandingkan dengan hari biasa. "Setiap Ramadhan dan menjelang Lebaran, jumlah nasabah meningkat. Saat ini, 97 persen nasabah menggadaikan perhiasan emas. Kebanyakan adalah nasabah yang mencari modal untuk membuka ataupun memperbesar stok barang menyambut Lebaran," tutur Ramelan.
Sejak 1-18 Agustus, Pegadaian Cabang Ngupasan menyalurkan kredit Rp 3,1 miliar atau naik 20 persen dibandingkan dengan bulan lalu. Menjelang Lebaran, jumlah nasabah bertambah. Selain warga Yogyakarta, sejumlah mahasiswa yang hendak pulang kampung biasa menggadaikan komputer jinjing, peralatan elektronik, hingga kamera.
Salah seorang mahasiswa asal Lampung, Dwi Bagus, mengaku kerap menggadaikan perangkat elektronik. Menjelang Lebaran, ia biasa menitipkan komputer jinjing. "Mungkin nanti kalau mau pulang kampung saya akan menitipkan laptop di pegadaian. Selain lebih aman, saya dapat uang untuk pulang kampung. Kalau kembali ke Yogyakarta, laptopnya saya tebus," ujarnya. (ARA)
