Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 00:57 WIB
Tak Perlu Ada Takbir Keliling
Laksono Hari Wiwoho | Hertanto Soebijoto | Kamis, 2 September 2010 | 12:28 WIB
|
Share:

KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO
Ilustrasi: Petugas kepolisian menertibkan peserta pawai takbir keliling kota saat melintasi Perempatan Matraman, Jakarta, Selasa (30/9/2008).

JAKARTA, KOMPAS.com — Warga DKI Jakarta diimbau untuk tidak melakukan takbir keliling pada malam takbiran menjelang 1 Syawal 1431 H, Kamis (9/9/2010). Selain untuk menjaga keselamatan bersama, langkah ini juga ditujukan untuk menghindari gangguan lalu lintas di jalan-jalan protokol.

Pada Lebaran sebelumnya, warga Jakarta melakukan arak-arakan keliling kota dan memadati kawasan Monas untuk melakukan takbir merayakan kemenangan setelah satu bulan berpuasa. Kegiatan ini sering kali menimbulkan kemacetan di jalan-jalan raya yang dilewati oleh rombongan arak-arakan dan berpotensi memicu tindak kejahatan.

Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Boy Rafli Amar mengatakan, Polda Metro Jaya akan bekerja sama dengan panitia perayaan Idul Fitri dan Majelis Ulama Indonesia di wilayah Jakarta dengan mengimbau umat Muslim di Ibu Kota agar tidak melakukan arak-arakan menjelang Lebaran. Takbir bisa dilakukan di masjid-masjid.

"Kami berharap agar masyarakat melakukan takbir keliling yang tidak harus keliling. Takbir itu bisa dilakukan di tempatnya masing-masing seperti di masjid-masjid atau tempat-tempat tertentu yang dapat menampung banyak orang," kata Boy seusai Apel Gelar Operasi Ketupat 2010 di Polda Metro Jaya, Kamis (2/9/2010) pagi.

Imbauan serupa juga dilontarkan oleh Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) sehari sebelumnya. DTKJ menyarankan agar tidak ada lagi takbir keliling dengan menggunakan mobil bak terbuka karena sangat berisiko terhadap keselamatan penumpang. Takbir dapat dilakukan di masjid, mushala, atau cukup di rumah.