Jumat, 25 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Jumat, 25 Mei 2012 | 01:09 WIB
CCTV Belum Optimal
| Jumat, 3 September 2010 | 03:44 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS - Pemanfaatan informasi dari teknologi kamera pemantau (closed-circuit television/CCTV) oleh pemudik masih minim. Padahal, jika informasi terkini dari kamera pemantau dapat dimanfaatkan, pemudik dapat mengarahkan kendaraannya ke jalan-jalan alternatif sehingga penumpukan kendaraan dapat dihindari.

Kurnia AS (29), karyawan swasta di Jakarta yang biasa mudik dengan mobil ke Salatiga, mengaku malas mengakses situs Kementerian Perhubungan karena koneksinya sangat lambat.

”Akses CCTV berupa video streaming masih sulit diakses lewat telepon seluler. Selain putus-putus, biayanya mahal,” kata dia, Kamis (2/9) di Jakarta.

Padahal, informasi lalu lintas, kata Kurnia,

sangat penting bagi pengemudi untuk melengkapi berita radio, informasi dari teman-temannya, dan peta mudik.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, terdapat 22 CCTV yang, antara lain, dipasang di Padalarang, Kadipaten, Merak, dan Comal.

Sementara Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Condro Kirono menyatakan, di Jakarta dan sekitarnya telah dipasang 166 CCTV untuk memantau arus mudik.

Juru bicara Kementerian Perhubungan, Bambang S Ervan, mengakui, informasi dari CCTV belum banyak dimanfaatkan. Padahal, citra yang terekam

dapat diakses di situs www.hubdat-rrtmc.web.id.

Sementara operator tol Jasa Marga juga menyediakan layanan informasi CCTV melalui situs www.jasamargalive.com.

Selain itu, kata Bambang, juga dipasang kamera yang dilengkapi sistem pelacak posisi (global positioning system/GPS) di 110 armada bus dari delapan perusahaan otobus. ”Kamera yang diletakkan di bagian depan bus itu otomatis merekam kondisi lalu lintas di ruas jalan yang dilewati bus tersebut,” ujarnya.

Jejaring sosial

Menurut pakar teknologi, Onno W Purbo, situs CCTV jalur Lebaran sebaiknya dikelola badan tertentu, baru diinformasikan kembali ke masyarakat berbentuk layanan pesan singkat, Twitter, maupun halaman web.

Pasalnya, besarnya transfer data sewaktu mengunduh video kamera pengamatan sangat mahal bagi kebanyakan orang.

”Bandwith-nya juga sangat besar. Jika terlalu banyak pemudik yang membuka situs itu, maka dapat macet,” ujarnya.

Data pengamatan kamera pemantau dapat juga dijadikan dasar untuk memperbarui data rute perjalanan melalui GPS. Atau, bekerja sama dengan aplikasi telepon seluler seperti Ovi Maps bagi pemilik telepon seluler Nokia untuk terus memperbarui data di peta itu.

Kata Bambang S Ervan, tahun ini Kementerian Perhubungan membuat terobosan dengan menyampaikan informasi terbaru lewat jejaring sosial Facebook dengan akun ”Info Mudik Lebaran” dan akun Twitter: @infomudikllaj.

Sementara Kompas Gramedia menyinergikan unit bisnis media cetak, radio, dan online-nya untuk memberi informasi dengan akun Twitter: @mudikkompas. (IRE/APO/ELD/GRE/RYO)